Mentri Pertahanan   Ryamizard Ryacudu   mengungkapkan   di diskusi panel serial  Yayasan  Suluh  Nuswantara  Bakti    2017 – 2018   yang  bertema “Menggalang Ketahanan Nasional Untuk Menjamin Kelangsungan Hidup Bangsa”,  walaupun Indonesia dikepung oleh lima kekuatan negara yang disebut FPDA ( the Five Power Defense Arrangement) yang terdiri dari Malaysia, Singapura, Inggris, Australia dan New zealand   belum  menjadi ancaman nyata bagi Indonesia  karena  ASEAN sudah  mencapai kesepakatan, yakni apabila terjadi perselisihan maka akan diselengarakan secara damai.     Kondisi tersebut sudah di laksanakan selama 40 tahun.

Justru yang harus kita waspadai adalah kekuatan non militer yang ada di kehidupan sehari hari. Ancaman ini merupakan ancaman yang nyata untuk saat ini karena menyangkut keamanan dan keselamatan kita bersama.
Ancaman nonmiliter itu antara lain berupa radikalisme, terorrisme, narkoba, wabah penyakit, bencana alam, pemberontakan dan separatisme hingga ancaman cyber yang menggangu keselamatan bangsa dan negara.
Semua ancaman nonmiliter itu dapat membahayakan keselamatan bangsa dan terganggunya sistem perekonomian negara dan dapat merusak objek – objek vital nasional dan merusak jaringan pelayanan umum pemerintah.

Untuk mengatasi semua itu diperlukan langkah-langkah yang membangun pertahanan nasional, seperti yang di ungkapkan oleh Dirjen Potensi Pertahanan Kementrian Pertahanan Sutrimo Sumarlan mengungkapkan, ada tiga langkah yang perlu di lakukan untuk membangun ketahanan nasional antaralain ;
pertama membangun sistem ketahanan negara,
kedua membangun kesadaran bela negara,
hal ini dapat mulai di tanamkan ke perserta anak didik, pendidikan ini bukan berupa wajib militer namun bagian dari pendidikan kewarga negaraan yang baik dari pembangunan karakter bangsa kesadaraan membela negara dan mengajak warganya berakhlak baik.
ketiga membangun kemandirian ketahanan nasional.
dalam hal ini membangun kemandirian dalam memenuhi perangkat perang militer atau alustsista.
kemandirian ini akan membuat pertahanan negara semakin kuat dan akan memberikan sumbangan yang semakin signifikan.

Pada saat ini Indonesia perlu mengubah paradigma perangnya saat ini karena kecenderungan perang saat ini lebih mengacu ke perang non konvensional dimana perang saat ini tidak hanya menggunakan kekuatan militer saja, tapi juga menggunakan kekuatan non militer untuk menjatuhkan lawan.
Pada kenyataannya, semua issue non konvensional, pendekatannya memakai cara konvensional, seperti kasus di Aleppo dan Marawi. Untuk itu Indonesia perlu memiliki industri pertahanan yang kuat yang bisa menghasilkan investasi pertahanan yang dapat mensejahterakan bangsa dan negara