Para peserta Diskusi Panel Serial, mari kita simak Bersama Laporan ketua Penyelenggara kepada Bapak Iman Sunario kami persilahkan.

 

Assalamualaikum Wr. Wb

Selamat pagi, salam sejahtera bagi kita semua.

 

Yang saya hormati,

Bapak Pontjo Sutowo

Bapak Dr. Prasetijono Widjojo

Bapak Dr. Bambang Subianto

Bapak Dr. Harbrinderjit Singh Dillon

Bapak Prof. Dr. La Ode Kamaluddin, dan

Hadirin yang berbahagia.

 

Pagi ini kita berjumpa kembali untuk melanjutkan Diskusi Panel Serial “Menggalang Ketahanan Nasional Untuk Menjamin Kelangsungan Hidup Bangsa”, pada Seri ke 7 tanggal 4 November 2017, dengan Tema ATHG dari Dalam Negeri, sebagai bahasa kedua (2) dengan topik : Aktualisasi Trisakati dalam bidang Ekonomi. Adapun Bahasa topik ini meliputi Ekonomi makro yang akan di bawakan oleh Dr. Prasetijono, Ekonomi Meso yang dibawakan oleh Dr. Bambang Subianto dan Ekonomi Mikro yang dibawakan oleh Dr. Harbrinderjit Singh Dilon.

Namun sebelum kita sampai pada pokok Bahasa diskusi hari ini, perkenankanlah saya melaporkan hasil diskusi seri 6 pada 7 oktober 2017 yang lalu dengan tema “ ATHG dalam Negeri, khususnya “Dasar Dan Ideologi Negara” sebagai  berikut :

 

  1. Peran Agama pada Kehidupan Berbangsa dan Bernegara

 

Dalam pemaparannya, Prof Dr. Jimly Asshiddiqie menyatakan bahwa pada dasarnya hubungan antara agama, bangsa dan negara di dunia memiliki 4 pola :

  1. Saling meniadakan, misalnya negara-nagara komunis.
  2. Hostile atau bermusuhan, misalnya negera-negara Eropa Barat.
  3. Friendly atau bersahabat, misalnya Amerika Serikat.
  4. Brotherly atau persaudaraaan, misalnya Indonesia.

Di Indonesia, UUD 1945 di catat sebagai the most goodly constitution dibanding konstitusi lain di dunia. Dalam konstitusi ini, kata Tuhan dan akhlak mulia banyak disebut, dan bahkan Presiden dapat diberhentikan kalau melakukan perbuatan tercela menurut ukuran normal. Kedekatan tersebut memungkinkan hadirnya Kementerian Agama, dengan tugas memberikan pelayanan administrasi agar perilaku warga bangsa ini dituntun oleh moral. Semua Agama, terus diberi ruang gerak untuk membina jamaah masing-masing. Kolaborasi system brotherly antara negara dan agama yang ada di Indonesia dicatat telah diparktekkan dengan semangat toleransi. Kini hanya perlu menjaga dan memlihara kesadaran tentang keserasian hubungan antara agama dan negara yang telah ada tersebut. Untuk terus ditingkatkan dan tidak disalah pahami.

 

Indonesia dapat dikatakan sebagai satu-satunya negara di dunia yang telah mampu membangun world civilization for tomorrow dengan meletakkan hubungan yang tepat antara “state and religion”.

  1. Jawaban Pancasila Terhadap Berbagai Ancaman Ideologi Transnasional demi Kelangsungan Hidup Bangsa

 

Dalam pemaparannya, Dr. Yudi Latif menyatakan bahwa Indonesia setelah 72 tahun merdeka, perlu melakukan upaya refleksi diri apakah Pancasila sudah usang atau semakin relevan bagi kehidupan umat manusia bangsa Indonesia. Ternyata secara “konseptual” sungguh kian-kuat dan relevan. Namun secara “operasioanl” kian – lemah dan bermasalah.

Kehebatan Pancasila sebagai “suatu dimensi konseptual”, dicatat mampu menjadi solusi dari seluruh ketegangan-ketegangan ideologis di muka bumi ini. Seperti misalnya ketegangan liberal kapitalisme yang abai terhadap gagasan sosialisme, dengan komunisme yang meniadakan ketuhanan.

Sangat disayangkan jika Indonesia ternyata tidak mampu mengoperasionalisasikan Pancasila. Dewasa ini Indonesia belum mampu menempatkan Pancasila sebagai dasar negara, di dalam memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan bangsa, tetapi justru meninggalkannya, disaat mana bangsa-bangsa lain justru semakin mendekat pada konsep Pancasila.

Contohnya ada pada berkembang di Cina yang menganut guide economy, dimana liberalisme ekonomi diberi ruang namun tetap dibawah kendali negara. Semua produk rakyat dikoordinasikan oleh “chapter” dari negara. Konsepsi seperti ini dulu pernah dipikirkan oleh Hatta dan Soekarno, tetapi justru sekarang dijalankan oleh Cina. Hal tersebut perlu menjadi refleksi kritis bangsa, agar Pancasila dapat diperkuat mulai dari ontologis, sampai visual dan yang utamanya adalah praksis aksiologisnya. Dengan demikian Indonesia dapat berkembang maju, dan bahkan menjadi penyelamat dunia.

 

  1. Mekanisme Konstitusional untuk Menjabarkan Pancasila sebagai Dasar dan Ideologi Negara

 

Dalam pemaparannya, Prof Dr. M Kaelan, MS menyatakaan bahwa sudah seharusnya mekanisme negara Indonesia secara konstitusional, didasarkan pada Pancasila sebagai dasar filosofi dan Ideologi Negara. Akan tetapi, pada kenyataannya tidak demikian. Sebagai akibatnya, antara das sollen und das sein sangat berbeda. Kondisi tersebut menyebabkan banyak kerancuan dalam bernegara. Misalnya dalam Pancasila sila ke – 4, tidak ada konsep pilihan langsung baik bupati, gubernur dan presiden. Dalam prakteknya hal tersebut dilanggar dan demikian pula pada berbagai aspek kehidupan bernegara lainnya.

Sesungguhnya Indonesia saat ini tidak lagi berdasarkan pada Pancasila. Realisasi praksis mekanisme dalam bernegara sekarang ini, tidak lagi relevan dan koheren dengan Dasar Negaranya. Untuk itu, saat ini sudah sangat diperlukan pengkajian kembali UUD 1945, baik sebelum dan sesudah  Amandemen, secara jujur, amanah dan bertanggung jawab dengan memahami proses perdebatan pada saaat pembentukkannya pada tahun 1945 yang lalu, agar kita dapat kembali pada jalan yang benar dalam praksis aksiologisnya.

 

Demikian laporan kami mengenai seri 6, merupkana bahasan Pertama (1) ATHG Dalam Negeri dari DPS Menggalang Ketahanan Nasional Untuk Menjamin Kelangsungan Hidup Bangsa. Semoga dapat menjadi rujukan pembahasan pada seri-seri berikutnya.

 

Maka akhirnya dapat saya kembalikan kepada Pembawa Acara untuk melanjutkan acara Diskusi Hari ini. Terima kasih.

Wassalamualikum Wr. Wb

Jakarta, 4 November 2017

IMAN SUNARIO

Ketua Penyelenggara

 

Terima kasih kepada Bapak Iman Sunario, kepada bapak pengurus daerah FKKPI di persilahkan untuk menempati tempat duduk di depan.

Baik peserta diskusi selanjutnya akan kita simak pengantar diskusi yang akan di sampaikan oleh yang terhormat Bapak Pontjo Sutowo. Kepada Bapak Pontjo Sutowo kami persilahkan.

 

Assalamualaikum Wr. Wb

 

Hari ini insya Allah kita akan membahas bidang ekonomi, suatu bidang yang tidak kalah pentingnya dengan bidang-bidang lainnya dalam keseluruhan pembahasan tema besar Diskusi Panel Serial tahun 2017-2018. “Menggalang Ketahanan Nasional untuk Menjamin Kelangsungan Hidup Bangsa.

Hari ini akan membahas pokk-pokok masalah ekonomi baik dalam dimensi makro, meso dan mikro yang akan di sajikan oleh Dr. Prasetijono Widjojo sebagai sumberator.

 

Perlu kita ingat bahwa benang merah yang menjelujuri perjuangan Kemerdekaan bangsa kita sejak abad ke 20 yang lalu adalah dalam bidang ekonomi ini. Hal ini bukan saja tercermin dalam nama-nama pergerakan nasional – seperti Syarikat Dagang Islam – tetapi juga dalam ideologi, strategi dan program perjuangan bangsa kita. Istilah keadilan sosial “bukan hanya demikian dekat dengan hati kita, tetapi juga berkali-kali disebut dalam pembukaan, dalam batang tubuh, serta dalam penjelasan UUD 1945 yang dirumuskan dan ditetapkan oleh para pendiri negara kita.

 

Pada dasarnya dapat dikatakan bahwa di tinjau dari aspek ketersediaan sumber daya alam, sekiranya kita konsekwen dan konsisten menindaklanjuti tekad kebangsaaan kita itu, sudah lama bangsa kita menjadi salah satu dari bangsa-bangsa yang termaju di dunia ini. Tanah air kita dianugerahi dengan demikian banyak dan demikian beragam sumber daya alam, yang jika di kelola dengan baik, tidak akan ada seorangpun penduduk kita yang akan hidup di bawah garis kemiskinan.

 

Namun kenyataannya tidak demikian. Setelah 72 tahun hidup dalam suatu negara yang merdeka, dan juga setelah 72 tahun menyetujui semangat yang terkandung dalam pembukaan, Batang Tubuh, dan penjelasan UUUD 1945, bukan saja sebagian besar rakyat kita masih hidup dalam keadaan miskin, juga sebagian besar sumber daya alam kita telah hampir terkuras habis, dan hanya dikuasai sebagai sebagian kecil penduduk. Adalah wajar jika kita bertanya kepada diri kita sendiri : mengapa bisa terjadi demikian?

Kita tidak perlu cepat-cepat mencari kambing hitam dari luar terhadap keadaan yang memperhatikan ini. Dengan kesatria kita harus mengakui bahwa sebagian besar kesalahan terletak pada diri kita sendiri. Marilah kita coba menginventarisasi beberapa kesalahan kita sendiri dalam hubungan ini.

 

Pertama, alih- alih akan menindaklanjuti kesepakatan nasional yang demikian luhur, kita malah demikian banyak membuang waktu dalam konflik ideologi, konflik politik, konflik sosial dan konflik bersenjata, yang telah menyia-nyiakan demikian banyak sumber daya nasional. Konflik ideologi dan konflik politik bahkan terlihat masih berlangsung sampai saat ini. Keadaan ini tidak boleh dibiarkan. kita harus menegaskan bahwa untuk satu Bangsa dan untuk satu Negera hanya boleh satu ideologi, dalam hubungan ini Pancasila, seperti tercantum dalam pembukaan UUD 1945. Ideologi lainnya harus dilarang secara resmi dan dilaksanakan secara tegas, karena telah menimbulkan kegaduhan berkepanjangan yang menghambat kemajuan Bangsa dan Negara kita.

Kedua, walaupun terdapat beberapa langkah maju dalam era reformasi, namun tidak kurang banyaknya kebijakan dalam era reformasi ini yang justru melanggar konsensus bangsa dan negara kita bagaikan kehilangan arah, khususnya – atau antara lain – dengan diturunnya derajat Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) sebagai lembaga Tertinggi Negara dan sehubungan dengan itu, ditiadakannya wewenang lembaga itu untuk menetapkan Garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN). Sebagai akibat kita bagaikan Bangsa yang kehilangan orientasi hendak menuju kemana. Pelanggaran konsensus ini harus juga segera kita koreksi.

 

Ketiga, telah terjadi kemerosotan ideologi, etika profesi dan etika pribadi para penyelenggara Negara kita dalam skala yang amat luas, hampir di segala tingkat dan hampir di segala bidang, padahal keteguhan berpegang pada dasar dan ideologi Negara itulah yang memberikan kepercayaan yang demikian besar kepada para penyelenggara Negara. Bebagai upaya kita untuk meningkatkan kadar ideologi, etika profesi, dan etika pribadi para penyelenggara negara ini kelihatannya belum memadai, dan harus ditingkatkan lagi.

 

Keempat, alih-alih akan memajukan kesejahteraan rakyat, terhadap kesan kuat bahwa cukup banyak di antara para penyelenggara negara tersebut yang justru memfasilitasi pengurusan sumber daya alam oleh pelaku kejahatan ekonomi untuk keuntungan mereka sendiri. Tidaklah berkelebihan jika dikatakan bahwa keadaannya sekarang sudah mendekati keadaan kritis dan memerlukana koreksi mendasar dan menyeluruh.

 

Kelima, rasanya kita agak abai dalam membangun kemampuan sumber daya manusia kita sendiri dalam mengolah kekayaan sumber daya alam kita. Kita lebih suka menjual sumber daya alam kita dalam bentuk mentah, dan membeli kebutuhan kita dalam bentuk barang jadi dari luar. Akhir-akhir ini malah ada kecenderungan untuk justru mengimpor sebagian besar bahan-bahan keperluan kita sehari-hati dari luar. Industri manufaktur kita terlihat merosot dengan tajam dibandingkan dengan era pemerintahan sebelumnya, suatu hal yang sungguh menyedihkan. Dengan demikian tidaklah keliru pendapat yang menilai bahwa pada dasarnya struktur kehidupan ekonomi kita dewasa ini hanyalah kelanjutan struktur ekonomi kolonial di masa lampau.

 

Kita harus mengambil langkah-langkah strategis dan mumpuni untuk mengoreksi keadaan ini. Langkah-langkah strategis tersebut harus kita rencanakan, kita organisasikan, kita tindaklanjuti dan kita kendalikan. Langkah-langkah yang paling penting untuk kita ambil adalah pembinaan sumber daya manusia dan institusi yang melembagakannya.

 

Sudah tentu kita harus menambahkan faktor dari luar, yang mengeksploitasi kelemahan-kelemahan internal kita tersebut, khususnya apa yang disebut dalam rangkaian Diskusi Panel Serial ini sebagai Perang Generasi Keempat. Seperti kita ketahui, perang Generasi keempat bisa dilakukan oleh negara manapun, baik untuk menguasai sumber daya alam kita, melalui sitem senjata ideologi, politik, ekonomi, maupun sosial budaya. Kita sudah menyadari hal ini, dan harus mengambil langkah-langkah strategis yang tepat untuk menangkal dan menaggulanginya.

 

Untuk Menangkal, menanggulangi, serta memenangkan perang generasi keempat dalam bidang ekonomi ini kita harus membangun, menggembleng dan menggerakkan apa yang bisa disebut sebagai “kesatria-kesatria Ekonomi”, yaitu para wiraswatawan nasional kita yang selain memiliki kemampuan berwiraswasta juga ilmu pengaetahuan dan teknologi untuk mengolah sumber daya alam, baik yang berukuran kecil, menengah maupun besar.  Kita bukan saja harus memberikan status sosial yang terhormat kepada “kesatria-kesatria Ekonomi” ini tetapi juga harus memberikan seluruh fasilitas dan dukungan yang mereka perlukan.

 

Bagi mereka yag sudah bisa berusaaha sendiri, hormatilah usaha mereka, jangan dihambat. Untuk mereka yang sudah bisa berusaha, namun menghadapi kompetisi yang tidak fair, lingdungilah mereka. Bagi mereka yang sudah berusaha, dan ingin maju, berikanlah kemudahan untuk mengembangkan diti lebih lanjut. Bagi mereka yang memang tidak mampu, penuhilah kebutuhan mereka dan berdayakanlah mereka.

 

Dalam hubungan ini kita beruntung bahwa pada beberapa daerah- khususnya di daerah pesisir – masih terdapat bakat serta kemampuan untuk bergerak aktif dalam bidang ekonomi terutama dalam perdagangan. Besar kemungkinan bakat serta kemampuan tersebut adalah warisan dari sejarah dan kebudayaan maritime masa lampau, yang tumbuh secara alamiah dari kondisi geolitik dan geostrategi kita. Seperti kita ketahui bakat dan kemampuan ini sengaja dimusnahkan oleh kaum kolonial Belanda, bukan saja dengan memusnahkan armada dagang kita, tetapi juga dengan menanamkan mental feodal di kalangan lapisan kepemimpinan kita.

 

Terkait dengan kebijakan ini, adalah keharusan untuk meninjau kembali orientasi serta system Pendidikan generasi muda kita. Jangan lupakan bahwa sebagian besar generasi muda kita hanya memperoleh Pendidikan setingkat sekolah dasar, yang menyebabkan mereka tidak bisa bertarung dalam ekonomi digital yang mejadi ciri dari abad ke 21 sekarang ini. Tambahan lagi, kita kurang memberikan perhatian pada penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, yang diperlukan agar kita mampu mengolah kekayaan sumber daya alam yang masih ada.

 

Suatu tindakan korektif yang sangat urgent dilakukan dewasa ini adalah mencegah agar jangan sampai ada penguasaan sumber daya ekonomi yang bersifat monopoli oleh suatu kelompok kecil atau oleh suatu golongan. Dewasa ini keadaan tersebut telah merupakan fakta yang sangat mencolok, dan jika dibiarkan bisa menimbukan kecemburuan sosial yang bisa bersifat eksplosif dan sukar dikendalikan. Rujukan ideologis yang harus menjadi pegangan kita semua adalah pembukaan UUD 1945 yang dikaitkan dengan pasal 33 UUD 1945. Artinya, seluruh peraturan perundang-undangan serta kebijakan pemerintahan yang menyimpang dari norma ideologis dalam bidang ekonomi ini harus segera dicabut, diamandemen, atau di koreksi.

Dengan demikian, rasanya kita tidak harus memulai dari titik nol untuk memajukan kemampuan ekonomi kita. Apa yang harus kita lakukan adalah menyadari dan mengoreksi kekurangan kita, serta menyegarkan dan merevitalisasi bakat dan kemampuan alamiah yang sudah kita miliki sebagai pendukung kebudayaan maritim.

Demikianlah beberapa pokok yang saya rasa perlu kita bahas dalam sesi sekarang ini. Kepada para panelis saya ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya.

Wassalamualaikum Wr. Wb

PONTJO SUTOWO

Ketua Pembina YSNB/ Ketua Aliansi Kebangsaan/ Ketua Umum PP FKPPI

Kesimpulan :

Kata kunci dari kata pengantar dari Bapak Pontjo Sutowo adalah apa yang harus kita lakukan adalah menyadari dan mengoreksi kekurangan kita serta menyegarkan dan merevitalisasikan bakat dan kemampuan alamiah yang sudah kita miliki.

Hadirin sekalian kita akan memasuki sesi diskusi dengan topik Aktualisasi di samping dalam bidang ekonomi. Kepada yang terhomat Bapak Prof. Dr. La Ode Kamaluddin kami persilahkan.

Bismillahirrahmanirrahim

Assalamualiku wr.wb

Selamat Pagi, salam sejahtera bagi kita semua Pada pagi hari ini dalam seri ke 7 ini kita memasuki sebuah pembahasan yang akan disampaikan oleh pemimpin-pemimpin senior bangsa ini yang berdasarkan gagasan mereka yang sangat luas secara frudamental tetapi di dalam aktualisasinya ada kesenjangan antara pemimpinan fundamental dengan kenyataan yang ada. Sehubungan dengan hal itu, panitia telah menyusunnya dalam acara diskusi panel yang diadakan sekarang. Oleh karena itu, saya ingin mengucapkan terima kasih kepada Pak Pontjo yang tadi telah menyampaikan ulasannya di depan dan Pak Iman yang telah menyampaikan laporan kegiatan. Susunan acara kali ini dimulai dari melihat tentang aktualisasi trisakti dalam tiga pandangan. Pertama dalam aspek pemerintahan mengenai kebijakan ekonomi dan kesejahteraan rakyat. Kemudian berikutnya didalam konteks kita masuk ke dalam kebijakan yang mendasar dan Pak Dillon akan tampil dengan pandangannya mengenai pertanian pembangunan bangsa mandiri. Masalah pertanian dan sektor ekonomi merupakan masalah yang cukup besar. Kali ini kita akan mendengarkan pandangan Pak Prasetijono mengenai kebijakan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan rakyat yang berkeadilan. Untuk mempersingkat waktu, kepada Bapak Prasetijono saya persilahkan.

 

Terima kasih kepada Bapak Prof. Dr. La Ode Kamaluddin.

Assalamualaikum Wr.Wb

Salam sejahtera untuk kita semua,

Saya akan menyampaikan beberapa hal mengenai kebijakan ekonomi pada saat ini. Namun tugas yang cukup berat adalah menerjemahkan bagaimana aktulisasi trisakti. Aktulialisasi trisakti itu ada tiga hal, yaitu dalam bidang politik, ekonomi, dan kebudayaan. Apakah itu betul betul sudah terimplementasi di Indonesia?

Yang pertama adalah mengenai tantangan ekonomi dan politik saat ini, antara lain:

  1. kemiskinan, jumlah penduduk miskin per Maret 2017 sebesar 27,77 juta orang atau 10,64% dari jumlah penduduk. Terjadi penurunan namun penurunannya melambat dan jumlahnya masih tinggi.
  2. kerentanan yaitu sebagaian penduduk yang hidup di atas garis kemiskinan sebenarnya masih rentan terhadap goncangan ekonomi.
  3. Kesenjangan, gini ratio yang menurun namun masih cukup tinggi 0,393 per Maret 2017 meskipun sudah sedikit menurun. Menurun 0,004 poin dibandingkan gini ratio maret 2016 yang sebesar 0,397.
  4. Tingkat pengangguran terbuka, terus mengalami penurunan Februari 2017 sebesar 5,33% meskipun harus diupayakan menurun. Penciptaan lapangan kerja untuk mendorong penghidupan yang layak bagi rakyat masih harus ditingkatkan.
  5. Perlombaan ekonomi global yang masih berlanjut.
  6. Paska Brexit dan perubahan politik di AS yang dampaknya luas. Sementara diplomasi Internasional menghadapi noodle bowl sysdrome. Perkembangan situasi di Korea Utara juga perlu dicermati resikonya.
  7. Penurunan harga komoditas yang masih belum pulih. Meskipun sebagian komoditas sudah mulai menambah harganya.
  8. Kondisi fiscal yang masih dihadapkan pada persoalan belum optimalnya penerimaan negara seperti pajak dan belanja yang masih harus dipertajam sesuai dengan prioritas. Defisit anggaran yang harus dijaga dari keseimbangan primer yang masih harus diperbaiki.
  9. Tahun 2018 sudah mulai masuk tahun politik yang akan disibukkan dengan persiapan-persiapan menghadapi pemilu 2019.

Demikian kondisi yang telah kita hadapi saat ini.

Pada slide ke-5 kita bisa melihat profil kemiskinan yang terjadi di Indonesia.

Gini ratio, menunjukkan masih 0,093 padahal pada tahun 2010 itu kita masih 0,04. Kalau kita lihat secara global, indikasi indeks negara bahwa pertumbuhan ekonomi pada saat ini masih melambat. Persoalan yang dihadapi oleh Indonesia adalah konteks pemerataan daerah dalam bidang ekonomi. Kemudian tingkat pengangguran yang cukup tinggi.

Dari sisi budget, Indonesia pada tahun 2012 sampai 2017 masih mengalami defisit yang berkisar 2,4% dan ini yang masih perlu diamati. Dari sisi permintaan, pertumbuhan ekomomi melambat dari sisi konsumsi pemerintah, masih negative. Demikian juga pertumbuhan yang negative masih dialami oleh ekspor dan impor.

Saya akan menyampaikan beberapa hal, yang akan dilakukan pada tahun 2018 bahwa ekonomi makro akan dibedakan menjadi tiga kolidor, yaitu bagaimana kita bisa mencapai pertumbuhan, menjaga kestabilitas ekonomi dan mendorong ekonomi yang berkelanjutan. Berbagai sektor yang dianggap mempunyai unggul adalah pertanian, perdagangan, keuangan dan ekonomi. Sektor pertumbuhan seperti pariwisata. Pertumbuhan ekonomi 2018 akan menaikkan inflasi 0,5%. Pada waktu pembahasan di DPR, di APBN disepakati bahwa pertumbuhan ekonomi 2018 akan  dilakukan peningkatan di berbagai bidang, salah satunya adalah bidang pertanian, perdagangan.

Kalau kita melihat perkembangannya, bahwa ada sisi ekspor dan impor kita yang paling banyak ke Tiongkok, Jepang. Namun ekspor kita masih bergantung kepada kondisi ekonomi Tiongkok. Kalau kita melihat perbandingannya, memang hampir mirip kontribusi impor dan ekspor.

Dalam proses penetapan APBN tidak bisa terlepas dari proses politik. Pada bulan ini, apbd 2018 sudah selesai, dan awal 2018 sudah berpikir tentang APBN 2019. Ini adalah yang terjadi proses yang melaluli proses poliltik yang dilakukan. Kementrian keuangan mempunyai otoritas untuk memutuskan pokok-pokok kebijakan fiskal. Kondisi fiskal yang sekarang banyak keterbatasan, untuk mencapai pertumbuhan yang cukup memadai dan pemerataan. Pemerintah mempunyai tema, misalnya tema 2018 memacu investasi dan infrastruktur dalam bidang ekonomi yang berkeadilan. Tahun 2018 mendasar kepada penciptaan lapangan kerja juga penanggulan kemiskinan dan kesenjangan. Secara umum ini disebut dengan strategi fiskal.

Di dalam slide 55 menterjemahkan bagaimana aktualisasi trisakti. Disini saya mengusulkan satu konsepsi untuk memperkuat ketahanan ekonomi nasional serta pembangunan karakter. Untuk memperkuat pertahanan nasional dan membangun karakter, dalam pembangunan ekonomi politik.

Paparan 1. Ideologis bahwa ada satu benang merah, antara Pancasila, pembukaan UUD 1945, dan trisakti yang ujung-ujungnya adalah untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat, pada paparan ini triskti menjadi fokus politik ekonomi dan budaya. Jadi bagaimana berdaulat dalam poliltik yang sesuai dengan Pancasila dan UUD 1945. Dalam kebudayaan akan muncul demokrasi social dan terwujud dalam gotong royong. Untuk melakukan aktulisasi trisakti didalam paparan operasional kita akan mengaplikasisikan UUD 1945

Paparan ke 2. tranportasi ekonomi dan transportasi sosial. Kita harus melihat aspek sosial, SDM dan manusianya seperti apa. Kemudian akan muncul penguatan daya saing, daya penguatan di masyarakat. Ini yang saya kira, ketika kita berteguh kepada hal ini mungkin masyarakat Indonesia di bidang ekonomi akan mengalami kemajuan.

Dari sisi ideologi, saya mengutip dari bapak Edi Swasono. Strategi pembangunan diidentifikasi menjadi empat hal diantaranya adalah membangun ekonomi rakyat, bersifat partisipatif, memberdayakan rakyat, meningkatkan sumber daya rakyat, mencegah eksploitasi, kepentingan ekonomi dalam negeri yang akan diutamakan,

  1. Membangun ekonomi rakyat yang berdaulat
  2. Membangun ekonomi rakyat yang bersifat partisipatif
  3. Memberdayakan rakyat
  4. Meningkatkan daya beli rakyat
  5. Meningktakan collective bargaining position dari rakyat dan mencegah eksploitasi
  6. Mementingkan ekonomi dalam negeri
  7. Pembangunan ekonomi rakyat yang meningkatkan daya kerja
  8. Mendukung perekonomian rakyat sebagai saka guru perekonomian
  9. Memperkokokoh pasaran dalam negeri
  10. Mewaspadai paham globalisasi
  11. Mempertegas daulat rakyat dan bukan daulat pasar
  12. Demokrasi ekonomi
  13. Membangun rakyat, bangsa, dan negara
  14. Menjamin pembangunan Indonesia
  15. Meningkatkan strategi pembangunan mendukung transformasi ekonomi dan transformasi social

Dalam satu kerangkat kami menawarkan bagaimana mencapai kesejahteraan yang berkeadilan seperti dalam slide 58

Kita perlu melakukan pengenalan dalam inovasi teknologi, infrastruktur, SDM dalam bentuk satu sinergi transportasi ekonomi dan social. Kita juga harus bisa mengambil kesempatan di pasar. Dalam konteks ini akan meningkatkan usaha kecil.

Bagaimana masyarakat miskin atau tertinggal bisa maju dalam bidang ekonomi. Kita menghadapi dalam bidang kemiskinan dan ketertinggalan. Dengan program ini, kita diharapkan bisa menjadi Indonesia yang mempunyai masyarakat yang modern, maju dan mandiri.

Kita menawarkan tiga kebijakan

  1. Meningkatkan perdagangan ekonomi baik ditingkat masyarakat rendah ataupun tinggi.
  2. Kebijakan afirmasi yaitu pengurangan kemiskinan dan pemerataan di desa terpencil
  3. Bagaimana kita bisa mendorong kegiatan merangkul sejak dini.

Ekonomi tidak terlalu mudah goyah apabila terjadi shock baik dari ekonomi dalam negeri maupun luar negeri sehingga kita bisa menanggungnya.

Bagaimana kita bisa menanggung? Kita bisa memakai kebijakan people center, disisi yang lain kita bicara trisakti dan kita bicara budaya artinya kita berbicara tentang pembangunan manusia. Selain kita bicara ekonomi yang bersifatnya umum afirmasi, kita perlu mendorong pembangunan manusia, pembangunan karakter, kepedulian lingkungan dan kesadaran masyarakat. Terakhir, saya menawarkan kesimpulan slide 64

  1. perlambatan ekonomi global dan nasional yang masih berlangung menuntut adanya kebijakan yang lebih focus kepada pertumbuhan yang berkualitas, yaitu bisa mengurangi kemiskinan, mengurangi pengangguran, membangun ketertinggalan, dan meningkatkan kualitas hidup bangsa Indonesia.
  2. Diperlukannya sinergi antara pembangunan dan ekonomi berdasarkan people center.
  3. Diperlukannya Political Will dalam bentuk komitmen terhadap prioritas pembangunan yang kebijakan afirmasi untuk mengatasi menurunkan tingkat kemiskinan, pengangguran, kesenjangan, dan untuk meningkatkan kualitas hidup.
  4. Pembangunan ekonomi harus dibarengi dengan pembangunan manusia termasuk di dalamnya pembangunan budaya atau karakter, peningkatan kapasitas kewirausahaan, peningkatan kepedulian terhadap lingkungan dan peningkatan kesadaran kewaganegaraan.
  5. Kebijakan pembangunan bersifat kebijakan umum seperti, kesehatan, kebutuhan dan pelayanan dasar. Selain itu juga kebijakan afirmasi seperti membangun desa yang tertinggal atau pemerataan ekonomi
  6. Perlu dilakukannya gerakan nasional menabung sejak dini untuk mendidik generasi muda yang gemar menabung
  7. Pemanfaatan teknologi untuk menopang peningkatan produktivitas ekonomi rakyat serta mampu mengikuti perkembangan dalam kancah internasional.

Sedangkan rekomendasi kami adalah

  1. Mengkaji kembali atau mereview berbagai peraturan perundang-undangan di bidang ekonomi untuk melihat konsistensi dengan ideologi Pancasila serta mengkaji secara lintas sector agar perundang-undangan dan peratuan yang tidak saling tumpah  tindih, dapat saling bersinergi, dan bermanfaat untuk kemakmuran rakyat Indonesia
  2. Memperkuat usaha mikro, kecil, dan menengah serta meningkatkan usaha koperasi sebagai bagian dari penguatan ekonomi rakyat
  3. Mempertajam visi ideologis, khususnya mengenai kebudayaan, ekonomi dan politik
  4. Mempertajam alokasi anggaran untuk mendukung kebijakan umum dan kebijakan afirmasi untuk mengatasi masalah kemiskinan, pengangguran dan kesenjangan serta memperkuat sinergi perencanaan APBN
  5. Secara continoue dilakukan penyempurnaan kebijakan, program, maupun kegiatan agar lebih tepat sasaran, tepat waktu dan memberikan manfaat untuk rakyat Indonesia.

 

Saya kira itu yang bisa saya sampaikan pada Ibu Bapak sekalian dan kurang lebihnya saya mohon maaf

Wassalamualaikum

PRASETIJONO WIDJOJO

(Bapak La Ode Kamaluddin) : “Luar biasa! Bapak Prasetijono telah memberikan kita sebuah gambaran makhluk kebijaksaan dan saya beruntung karna itu mudah sekali untuk kita pahami. Dan sekarang marilah kita lihat fakta di lapangan. Sehubungan dengan itu maka saya rasa Bapak H.S Dillon harus tampil. Kepada beliau kami persilahkan.

 

Assalamualaikum Wr.Wb

Merdeka!

Bapak Ibu sekalian, pertama saya akan meyakinkan semua kita bahwa masalah yang terjadi ini bukan masalah teknis, bukan masalah pengetahuan tapi masalah wilayah. Kearifan leluhur, gemah ripah loh jenawi, toto tenterm karto rahardjo. Sesuai dengan keadaan kita di nusantara ini, kalaiu kita mampu, membina keseimbangan dengan ibu pertiwi. Kehidupan kita akan sangat baik. Ini merupakan kemampuan kita dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Apapun yang kita lakukan kepada alam, itulah yang akan kita dapatkan. Dalam mencoba membangun keseimbangan dengan ibu pertiwi, kita harus kerjasama. Nilai-nilai kerjasama itu, nilai kesetaraan itu, itulah menjadi modal nilai bangsa. Menurut pemahaman saya, pola pembentukan modal ekstraktif. Tujuannya adalah membiayai. Dulu itu, pertanian diminta menghasilkan pangan, bahan baku, dan upah rendah. Mengapa semua ornag ingin harga pangan murah? Karena upahnya rendah.

Yang paling nyata adalah kulturstelsel, tanam paksa. Rakyat ini dipajak, kemudian mereka buat agrarischewet yaitu tanah yang dimiliki rakyat diambil paksa sehingga modal mereka hamper tidak ada. Belanda merupakan penjajah yang paling efisien, karena mereka hanya menopang di atas eksploitasi.

Mewujudkan trisakti, menjebol, membangun, menjebol lagi dan membangun lagi. Apa yang dijebol? Kelembagaan ekstraktif. Beliau paham betul, tapi beliau juga seorang filusuf jadi beliau mengerti bahwa sekali dibangun akan dipakai lagi bahan yang lama. Jadi nilai-nilai dan sifat ekstraktif itu tidak akan menghilang. Beliau mengatakan bahwa pangan itu adalah hidup dan matinya suatu bangsa. Pandangan beliau adalah demokrasi terpimpin dan beliau bertanya Siapa yang akan menyadarakan rakyat saya nanti?”

Bung Karno mengeluarkan PP 10. Pedagang dan pengecer di desa itu harus petani, tidak boleh orang dari luar yang datang. Beliau mengadakan undang undang pokok agrarian, perjanjian bagi hasil namun beliau tidak berhasil karna terlalu kuatnya ekstraksi. Bung karno, yang mempunyai kekuatan begitu banyak tetap tidak berhasil. Trilogy, stabilitas, pertumbuhan, pemerataan. Dibuatnya keluarga berencana, puskesmas, SD INPRES dan BANPRES. Kemudian adanya transmigrasi.

Yang terjadi, belum pernah disaksikan oleh dunia modern mengenai laju penurunan tingkat kemiskinan di pedesaan.

Ketika lahan dikuasi, petani dipinggirkan, hak masyarakat adat diabaikan, dan perkebunan dijualnya kepada konglomerat sehingga timbullah industry pangan yang berlandaskan impor seperti terigu, gula, kedelai. Kemudian beliau mengnadakan pertemuan tapos dan ditampik oleh konglomerat. Beliau meminta 15% saham diberikan kepada karyawan dan akan dibayar kembali oleh premi yang dihasilkan namun beliau ditampik. Presiden yang berkuasa pun ditampik oleh mereka. Inilah akibat stabilitas pertumbuhan pemerataan, stabilitas yang dipaksakan. Saya punya paham, sebagaian besar yang terbunuh itu adalah rakyat yang ingin mendapatkan tanah. Pada saat kita ingin membuat pemerataan, mereka tidak mau lagi dan mereka sudah berkuasa.

Prakarsa presiden, ini lebih kompleks karena yang paling penting adalah konglomerat.

Pada saar B.J Habibie dan Mega dilakukannya Otonomi daerah dimana yang berkuasa adalah konglomerat dan mereka selamat sehingga penyelamatan dibebankan pada rakyat. Kemudian pada saat SBY, dilakukannya program revitilisasi pertanian dan program kemiskinan dengan cara mengimpor pangan. Hamper 50% bahan pangan diimpor. Sekarang Bpk Jokowi dilakukan dana pembangunan desa, KUR, sertifikasi dan membangun infrastruktur URBAN dan pinggiran. Sertifikasi dilakukan, padahal yang paling penting adalah mengambil kembali tanah yang telah diambil oleh konglomerat.  kemudian stunting-kontet, baik manusia Indonesia maupun UKMnya.

Nilai impor pangan. Biji gandum dan gula tebu adalah pangan utama namun kita sulit untuk menghasilkan ini. Dengan begitu dimana ketahanan nasional yang dibicarakan, terus kita tergantung dalam ketahanan negara. Kalau kita menghasilkan sendiri, tidak perlu kita impor dari negara lain. Nilai impor saat ini diperkirakan mencapai 15 triliun/tahun. Kalau kita bisa memproduksi pangan impor maka kesempatan kerja akan semakin besar seakitar 20 juta orang dan itu artinya 70% orang miskin bisa meningkatkan ekonominya.

Profil pertanian, 70% lebih orang miskin ada di sektor pertanian. Bangsa pertanian turun, tetapi dalam matapencarian tidak. Kesenjangan semakin besar dan jelas dengan metode yang kita pakai. Setiapp pertumbuhan di sector pertanian berdampak 2,5 kali lebih besar daripada sector lain dan ini yang disebut dengan “for the lowest income at the lowest quintitie”.

Kalau tidak ada asset dan tidak ada lahan maka tidak aka nada yang dengar. Pada saat ini yang penting lagi bukan tanah tetapi data, teknologi, kreatifitas. Penjelasan sedikit mengenai landasan teori kokoh, yaitu The Agrarian Origins of Commerce and Industry. Contohnya adalah RURAL atau urban parity yaitu mengacu pada nilai-nilai budidaya, seperti budaya Bali. Kemudian ada yang namanya alasan kultur, seperti Jepang, Jerman, dan Perancis. Selain itu ada yang disebut dengan Proteksi, subsidi, price support, border measures, dan x-subsidies. Dengan kata lain, lebih baik merawat SWA-SEMBADA. Dengan merawatnya maka negara akan maju, mereka bina pertahanan dan meningkatkan potensi. Jadi tidak menghabiskan pertanian, dimana orang yang bertahan di pertanian akan mendapatkan uang yang senilai dengan apa yang dilakukan. Jadi nilai-nilai budidaya itulah yang menjadi budaya.

Selain itu ada juga Taiwan yang membangun ketahanan dengan Catastrophic learning experience dengan hasilnya pertumbuhan berjalan beriringan dengan pemerataan. China juga meningkatkan harkat, dimana ada MAO yaitu desa mengepung kota dengan mengaplikasikan demokrasi terpimpin, revolusi budaya Pendidikan bermutu dan disiplin tinggi. DENG yaitu ekonomi terpimpin dan penanggulangan kemiskinan. ZI yaitu sosialisme dengan karakteristik China operasi anti korupsi.

Lahan yang sama akan menghasilkan pertumbuhan 100 banding 100. Dimaana prosesnya? Di pedesaan, mereka membangun industry adalah di pedesaan bukan di ibukota. Disetiap komunitas pun mereka membuat penelitin-penelitiannya.

Namun petani Malaysia adalah BOS Besar di Indonesia.

Menurut saya, kita perlu mandiri. Bagaimana kita bisa mandiri tanpa Pendidikan? Banyak petani dan rakyat kecil yang masih tetap tinggal kelas. Bagaimana negara bisa maju kalau masih seperti ini? Ini yang kita lupa, Pendidikan guru begitu baik. Banyak negara-negara yang datang ke taman siswa untuk belajar. Jadi bagaimana kita bisa bersaing kalau kita masih tertinggal dalam dunia Pendidikan. Selain itu 20 juta orang masih lapar dan itulah kemiskinan yang paling mengerikan di dunia ini.

Naar de republiek, Gerakan petani: reformasi atau revolusi. Kenapa revolusi mental tidak terjalin? Yang diperlukan tidak hanya mental, namun mental spiritual yang diperlukan. Korupsi dimulai dari partai politik hingga ke sekolah. Untuk merubah paraddigma laju pertumbuhan membangun bangsa mandiri. Setiap kebijakan yang kita susun, kelembagaan yang kita bangun ditentukan dengan apa yang bisa dikembangkan. Selain itu LEE Kuan Yew memperkirakan posisi kita adalah ke tiga pada tahun 2025.

Dengan begitu pelajaran yang dapat dipetik adalah negara yang berhasil menggapai teknologi tinggi tanpa kehilangan jati diri adalah yang semenjak awal memperkokoh landasan dan perdesaannya.

Merubah paradigm laju pertumbuhan dan membangun bangsa mandiri. Pengamatan Dillon menggunakan People driven yaitu memutus rantai kemiskinan dan membangun kebersamaan.

Yang terakhir kita memilih antara “Pemimpin amanah atau kursi merenggut nurani?”

Apa daya rakyat biasa? Dari kami akan menjadi kita dan mengawak kata menjadi laku yaitu menggandeng yang lemah.

Jadi mindset elit republic adalah orang rajin beribadah, namun bengis menindas rakyat dalam bentuk korupsi. Yang terapenting dari kita adalah TAULADAN, panutan dan mari jadi panutan yang benar untuk semua. Kalau umur kita sudah 50 kita bukan lagi mencari panutan, kita harus menjadi panutan yang benar. Sekian dari saya, Wassalamualaikum.

Jakarta, 4 November 2017

HARBRINDERJIT SINGH DILLON

Luar biasa dan sekarang bagaimana merajut pertumbuhan dan pemerataan itu, kita persilahkan Pak Bambang untuk dapat memberikan sedikit penjelasannya. Kepada Bapak Bambang kami persilahkan.

 

Merajut Pertumbuhan dan Pemerataan Pembangunan Nasional Menuju Kemandirian Bangsa Guna Ketahanan Nasional

Banyak kecocokan dan pandangan diantara kami, mungkin yang membedakan adalah gaya Bahasa atau gaya bicara saja. Untuk target 2019, untuk mencapai indeks 0,39 dan pertumbuhan diupayakan mencapai segitu. Di dalam peta, gambar Indonesia berwarna biru yang artinya GDPnya lebih tinggi dari Belanda. Lalu bagaimana dengan situasi dan gambaran lainnya?

GDP perkapita kita juga lumayan, berwarna kuning dan mencapai level 3.500 pada tahun 2014. Berikutnya, pertumbuhan juga relatif sekitar 5 dan berwarna hijau muda. Lanjut kepada pertumbuhan GDP perkapita juga lumayan dan lanjut lagi bagaimana dengan GDP indeks? Kita tidak separah brazil, amerika serikat, mexico, dan cina. Masih lebih baik dari rusia yang tadinya negara komunis. Dari tahun 1990 sampai 2010 yang belanja naik dari 38,9% menjadi 43,7%. Indeks cenderung naik sejak 2012.

Rata-rata perumbuhan lumayan dan angka-angka pengangguran juga tidak terlihat dan tingkat pengangguran juga menurun. Apa lagi yang perlu dirisaukan? Yang pertama adalah kredibilitas angka. Dengan definisi tersebut maka angka pengangguran kehilangan kredibilitas, gambaran yang dihasilkan cenderung lebih indah dari aslinya. Kalau angka pengangguran tidak punya kredibilitas, bagaimana dengan angka indicator-indikator kemiskinan dan pemerataan lainnya?

Menteri tenaga kerja dengan bangga mengatakan bahwa pengangguran menurun, demikian pula BPS melakukan pendataan secara berkala. Ketika saya cek, orang yang bekerja di sector formal tidak mencapai lebih 35juta. Kemudian saya buka definisi pengangguran. Bekerja adalah kegiatan ekonomi yang dilakuakan oleh seseorang dengan maksud memperoleh atau membantu memperoleh pendapatan atau keuntungan. Angka pengangguran bisa menjadi naik jika kita tidak berani merubahnya. Misalnya merubah menjadi 10 jam maka akan pengangguran pun akan berubah.

Pertama, perpajakan adalah salah satu kunci untama dalam merajut pertumbuhan dan pemerataan.

Sebetulnya pajak memerlukan paradigma yang benar. Peradaban itu adalah memburu

Apakah yang disebut dengan kebijaksanaan, lakukan hal-hal yang mendukung kebijaksanaan. Seperti gambar tadi, dalam jurang saya bertugas untuk mengangkat ke atas. Prinsipnya, kita harus berubah dalam proses paradigma dengan menjadi hunter. Kalau hunter ketika ada target akan dikejar dan dicapai. Kemudian ciptakan suasana dalam berbisnis itu kondusif.

Yang saya gambarkan di halaman berikutnya, kalau sekarang hanya terfokus pada target kuantitatif tahunan yang diperuntukan pada proses.

Yang kedua adalah memperkuat kecermatan dalam perhitungan dan penyetoran PPh. Dalam system diperlukan pemeriksaan yang sangat cermat dan pada pengaplikasian tidak. Pemikiran saya dibalik, kepada orang harus sangat cermat sedangkan kepada badan kita perlu kepastian. Kenapa sebuah badan memerlukan kepastian?

Untuk pph pribadi harusnya dipertajam dengan akurat bukan amnesti. Yang harus dibangun adalah sebuah system dan cermati apakah laporan yang dibuat sudah benar dan sesuai. System perpajakan harus cermat antara pph pribadi dan perorangan. Pph badan, apa instrument yang digunakan? Apakah sudah sesuai dan akurat? Dan akan dilakukan audit report untuk penyelidikan mengenai pajak.

Program yang mau dikerjakan banyak tetapi lupa bahwa untuk mencapai tersebut kita harus bisa memilah ada yang bisa dilakukan dan ada yang tidak bisa dilakukan. Kita harus sadari, apa yang bisa dilakukan. Indentifikasi terlebih dahulu mengenai peluang, sering kali peluang tersebut dilematis dengan kenyataannya.

Kalau ditolak, kita kehilangan dari informal menjadi formal. Contohnya adalah gojek. Saya perlu menggarisbawahi mengenai formal dan informal. Gojek merubah dari informal menjadi formal.

Lihat mengenai kredibilitas angka, apa celakanya menjadi pekerja informal? Social security, pekerja informal tidak bisa menikmatinya. Mereka mempunyai mobilitas lebih tinggi sehingga sulit sekali dijaga. Ketika ada yang bisa mengorganisir dari formal menjadi informal, akan terdaftar dan mereka bisa diikutkan ke dalam BPJS sehingga mereka akan mendapatkan fasilitas. Ada peluang yang bagus dalam meningkatkan pemerataan di desa terpencil. Salah satu contohnya adalah Candi Borobudur, coba lihat peta di Asia Timur. Kenapa kita undang mereka untuk mengunjungi candi Borobudur? Dan berapa peluang pekerjaan yang akan terjadi?

Sector unggulan adalah pariwisata, kenapa kita tidak jaga baik-baik?

Satu hal yang pasti, sering kali perubahan teknologi tidak bisa dihambat jadi pintar-pintar dalam menerima informasi. Satu tantangan lagi, yaitu tantangan mengenai kependudukan. Pertumbuhan dari tahun 2015 sampai tahun 2020 akan terjadi penurunan pertumbuhan penduduk. Kalau ini tidak bisa dikendalikan akan menjadi berantkan. Terakhir, saya pernah melemparkan sebuah teka-teki kepada mas. Mas, kamu senang duren ga? Dan kalau ditanya, pilih yang mana? Yang enak dan murah atau yang ga enak? Pilih yang enak dan murah. Kursi itu diberi wewenang untuk beli duren untuk 1000 orang? Pilih yang enak dan murah atau pilih yang enak buat saya? Terserah rasanya. Biasanya terjadi pergeseran atau kursi merebut selera. Ini yang menunjukkan bahwa posisi anda bisa bergeser karna anada menggeser sikap anda. Pertama memilih yang enak dan murah karena pakai uang sendiri sedangkan pakai uang jabatan memilih yang enak dan mahal atau bahasanya korupsi. Banyak orang yang geram tetapi hal ini terus berjalan. Kita sudah banyak yang mengetahui bahwa korupsi adalah suatu praktek yang mengakibatkan rusaknya pemerataan. Ada beberapa alasan, pertama terjadi korupsi maka hasil korupsi ini tidak pernah terkena pajak. Kedua, karena dikorupsi maka yang lainnya lebih mahal dan yang membayar adalah rakyat. Ketiga akan terlihat implemental anatara hasil dan jumlah kebutuhan yang meningkat.

Saya tertarik juga kepada cacatan Pak Dillon mengenai keseimbangan. Bagi yang beragama Islam, silahkan membaca Ar-Rahman. Ketika diciptakan alam semesta itu, semuanya seimbang maka jangan merusak alam semesta. Itu mengenai keseimbangan. Nah korupsi menunjukkan bahwa kita melupakan perintah dalam menjaga keseimbangan di dalam hati kita karena hati kita merupakah bagian dari alam.

Jakarta, 4 November 2017

BAMBANG SUBIANTO

Bapak La Ode Kamaluddin : Luar biasa sekali para pembicara kita di hari ini, karna begitu luar biasanya kita sampai mengkorupsi waktu. Jadi untuk waktu yang kita kurangi adalah sesi tanya jawab. Baikan untuk mempersingkat waktu lansung saja kita mulai sesi tanya jawab ini dengan mengacungkan tangan untuk yang ingin bertanya.

Bapak yg di sebelah sana bisa lansung ke depan dan memberikan pertanyaannya.

 

TANYA JAWAB :

  1. Saya mengikuti dengan cermat mengenai bidaang ekonomi yaitu bidang yang bukan bidang saya. Saya merujuk pada kata pengantar Pak Pontjo tadi. Bidang ekonomi ini mugkin termasuk titik berat bangsa Indonesia untuk mencapai kehidupan yang lebih baik khususnya di bidang politik dan ideologi. Saya selama ini bergelimang di bidang ideologi.

    Masalah kita adalah tindak lanjutnya yang membicarakan realita. Di Indonesia paling banyak bangsa atau rakyat yg mengkritis. Saya ingin mengajak Pak Dillon, mari kita kumpulkan teman-teman yang peduli terhadap Republik ini dalam satu buku.

    Saya dari Aliansi Kebangsaan. Pada Alinea kedua yaitu tujuan cita-cita nasional yaitu mewujudkan negara yang merdeka berdaulat adil dan makmur. Apakah ini hanya mitos? Negara adalah pemerintah negara yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan memajukan kesejahteraan umum. Apakah maju kesejahteraan kita? Kemudian mencerdaskan kehidupan bangsa. Semakin cerdas atau semakin bodoh kita? Mari kita audit republic ini. Kita harus mengekspresikan kepedulian kita dengan mengatakan yang sejujurnya.

  2. Saya mendengarkan pemaparan Pak Dillon. Semenjak saya resign saya belum pernah menerapkan yang namanya ideologi pembangunan sehingga dalam hal ini banyak bangsa lain yang belajar dari kita, sementara kita meninggalkan apa yang telah kita temukan. Contohnya presiden kita sudah mempunyai konsepsi yang jelas. Dalam hal ini istilah trisakti hanya kita baru sampai tahap slogan belum menjadikan konsepsi perjuangan. Dan ternyata kita juga masih belum mengerti bahwa kebijakan yang ternyata justru bertentangan. Berbeda dengan trilogy pembangunan yang menjadi konsep pembangunan. Dalam hal ini ada yang ingin saya tanyakan kepada Pak Dillon bagaimana bapak mamaknai kata pribumi dan non pribumi dalam rangka mencari suatu solusi. Karena saya cermati dari pertemuan Bersama Bapak bahwa rasa nasionalisme bapak begitu besar, yang ingin saya tanyakan bagaimana Bapak bisa berkontribusi mencarikan jalan tengah terhadap persoalan ini.
  3. Pertanyaan pertama bagaimana pendapat Bapak tentang politik anggaran dana dari waktu ke waktu apakah ada kesinambungan khususnya dalam memberikan prioritas kepada sektor-sektor unggulan. Ada titipan pertanyaan kedua bagamaina ketahanan ekonomi kita dengan struktur APBN yang 1500 triliun itu pendapatannya itu dapat dari pajak. Dengan pembangunan inprasuktur ini maka hutang akan bertambah jika kita produktif untuk mencapai kemandirian ekonomi. Yang menjadi petanyaannya adalah bagaimana solusinya untuk itu semua? Terima kasih.
  4. Suhut alwi, mengenai nilai impor pangan. Untuk impor singkong, 2.26 mil Indonesia adalah tanah yang sangat subur. Menurut saya dengan nilai tersebut bisa menurunkan ekonomi Indonesia. Area mana yang membutuhkan impor singkong? Kenapa kita harus impor singkong? Agar masalah ini ada sumbangsih dari mahasiswa untuk Indonesia. Apakah ada solusi agar masyarakat tersebut bisa menanam singkong dengan baik?
  5. FKKPI Riau, penapatan daerah riau hampir 17 triliun dan dikembalikan 18 triliun. Saya heran mengapa uang tersebut dikembalikan ke pusat? Mengapa kita harus mengembaikan uang tersebut ke pusat?

Kebijakan bupati meranti adalah membuat tanaman sagu dan berhasil. Kemudian mendapatkan penghargaan di dunia. Kesalahan kebijakan bisa masuk penjara,

 

Pak Prasetijono,

Mungkin secara umum memang ada perubahan besar sejak adanya reformasi. Semua terjadi perubahan termasuk system politik.

Apakah kemudian tujuan nasional atau visi-misi akan diterjemahkan di dalam UU?

Hal ini menjadi satu pernyataan di BAPENAS.

Sebagai contoh sekarang adalah system politik, bahwa system politik sekarang sudah berubah. Pada pemilu pertama terdapat 48 partai. Kemudian perubahan struktur, bahwa MPR bukan lembaga tertinggi dan ini menyebabkan suatu proses yang berbeda.

Bagaimana aktulisasi trisakti?

Yang lain mengenai research, saya sepakat bahwa mahasiswa perlu kita dukung. Mahasiswa tidak pernah absen dalam proses perubahan karena peran pemuda besar sekali dan itulah yang mendorong proklamasi. Persoalannya sekarang adalah kita menghadapi generasi millineal yang sudah berubah.

Bagaimana kita mengantispasi?

Tadi disunggung Pak John dari riau, mengenai APBD. Memang itulah harga dari sebuah demokrasi. Sekarang orang menuntut dengan adanya satu demokrasi. Demokrasi sudah masuk ke kampus dan demokrasi sudah kemana-mana. Kalau kita ingin semakin demokratis maka biayanya pun akan semakin mahal. Dengan skema trisakti, kita mampu membangun demokrasi politik dan demokrasi terpimpin. Yang pertama adalah ideologi yang jelas, perencanaan yang jelas dan terpimpin oleh satu haluan. Kalau haluan negara, berarti haluan negara yang menjadi dasarnya. Contoh Cina adalah negara komunis.

Banyak hal yang perlu kita sikapi dulu dan memutuskan apa-apa yang perlu kita lakukan

Pak Bambang: pertama mengenai kesinambungan, sebetulnya ini pertanyaan yang sama dengan kepala saya. Jadi saya harus menjawab bagaimana?

Bagaimana kita mau mengukur konsistensi kalau janjinya saja tidak konsisten? Apakah voting termasuk contoh dari demokrasi? Menurut saya tidak.

Kebenaran tidak bisa divoot, hanya selera yang bisa divoot. Segala sesuatu inkonsistensi terjadi karena kita mengabaikan Pancasila. Sila kedua adalah kemanusiaan yang adil dan beradab, jadilah manusia yang adil dan beradab. Kemanusiaan itu adalah Sesutu yang bisa dilihat. Nah artinya, kita mengabaikan prilaku dan contoh-contoh yang menunjukkan tidak beradab. Sila kelima adalah masyarakat yang adil dan makmur, ini viodal. Dari siapa keadilan social itu? Kalau tidak terpenuhi sila kedua jangan harap terpenuhi sila kelima. Kondisi yang kurang baik menunjukkkan buruknya penerapan dan implementasinya.

 

Pak Dillon: sebetulnya yang penting itu adalah rasa senasib dan seperjuangan yang dibentuk oleh masyarakat kita sendiri.

Kenapa kita bisa bahu membahu? Karena kita merasa kita bersaudara. Saya minta Jokowi, bahwa dia adalah kepala pemerintahan dan kepala negara. Kita tidak boleh membiarkan bangsa lain memecahkan kita.

Kalau kita merasa bisa membina persaudaraan dan itu mulai dari rumah. Maka Masing-masing dari kita harus introspeksi diri, the moral judgement.

Persoalan yang kita hadapi,

Apa yang kita lakukan dan apa yang belum kita lakukan?

Mungkinkah kita membangun kekuatan ekonomi tanpa orang yang kita pikirkan?

 

Bapak Pontjo Sutowo : kita harus mampu meluruskan suatu cara berpikir baru untuk menghadapi persoalan seperti ini. Saya rasa cukup sampai disinilah pembicaraan kita hari ini.

Demikian yang dapat saya sampaikan, saya ucapkan banyak terima kasih dan semoga kita dapat berjuga lagi di Diskusi Serial sesi selanjutnya. Wassalamualikum Wr.Wb