Pada saat ini ancaman perang konvensional sudah di katakan hampir tidak ada, invansi militer kesuatu negara sudah berkurang dan hampir tidak ada lagi.
Peperangan konvensional mulai di tinggalkan beralih ke peperangan yang lebih modern dimana peperangan modern ini menggunakan cara yang sangat halus sehingga efeknya tidak terasa tapi dapat menimbulkan kerusakan yang sama atau lebih dashyat terhadap negara yang diserang.

Indonesia saat ini sedang menghadapi peperangan modern ato bisa juga di sebut proxy war di mana perang ini dapat menyebabkan suatu negara lambat taun akan takluk dan kehilangan kendali atas negaranya, untuk menghadapi itu, diperlukannya membangun pertahanan baru untuk menghadapi proxy war.

Pada diskusi panel serial “menggalang ketahanan nasional untuk menjamin kelangsungan hidup bangsa” dibahas, untuk menghadapi proxy war tersebut di perlukan tindakan preventif, yakni menumbuhkan kembali rasa kebangsaan, khususnya dikalangan generasi muda. “Masalah pendidikan kewarga negaraan harus kembali ditanamkan”,kata Pontjo Sutowo pembina YSNB, ketua aliansi kebangsaan dan Ketua umum FKPPI.

Menurut Hankam, di Indonesia serangan militer untuk 10 sampai 15 tahun kedepan tidak akan ada akan tetapi serangan nonmiliter dengan menggunakan konsep senjata baru telah terjadi. Perang tersebut menggunakan konsep senjata baru dimana menggunaka segala sesuatu yang bermaanfaat bagi manusia, seperti perdagangan, moneter, dan dunia cyber.

Sayangnya persiapan Indonesia kurang untuk menghadapi proxy war ini. I.G.K Manila mencontohkan bagaimana suatu wilayah di Indonesia bisa hilang karena adanya serangan kekuatan ekonomi. Pulau – pulau kecil disekitar pulau durian di wilayah kepulauan Riau hilang akibat adanya reklamasi pantai Singapura yang memperluas wilayah daratannya.
Sekalipun sebagai ancaman nyata, UU hankam seharusnya mampu menangkal serangan proxy war, ternyata belum ada karena itu hal ini harus diatasi bersama yang utamanya oleh pemerintah untuk memulai membuat dan menerapkan undang undang yang dapat mengelola pengaruh proxy war.

Saafroedin Bahar berpendapat timbulnya perang modern ini mengharuskan bangsa ini meninjau kembali doktrin, strategi, taktik dan intuisi dalam bidang pertahanan keamanan. Landasan hukum yang mengatur alat alat negara perlu segera di efektifkan supaya dapat mengatasi permasalah yang menggangu pertahanan dan keamanan negara.

Robert Mangindaan mengatakan bahwa pada saat ini dunia telah memasuki peperangan generasi ke 4 di mana peperangan ini menggunakan senjata teknologi tinggi yang semakin mematikan dan singkat durasinya. Pada perang generasi ke 4 tidak hanya senjata saja yang di gunakan untuk mejatuhkan lawan tapi segala sesuatu yang berguna bagi hidup manusia juga di gunakan untuk menjatuhkan lawan, saat ini Indonesia gagal mengatasinya, pscyho cultural warfare, media wafare, dan legal warfare terus di bidik oleh negara lain. Dalam kondisi yang parah ini Indonesia memerlukan critical mass untuk menghadapinya. Critical mass adalah masyarakat yang memiliki kesadaran, kepedulian, nasionalisme dan sebagainya kemampuan ini dapat di gunakan untuk menangkis serangan proxy war.