JUAL beli bukan hal baru bagi masyarakat Hindu-Buddha awal. Wli, istilah Jawa Kuno, untuk beli ditemukan dalam prasasti dari 878 M. Begitu juga istilah Sansekerta, wyaya, ditemukan pada tahun yang sama dalam prasasti lain.

“Ini mengindikasikan memang sudah ada transaksi jual beli pada masa itu. Namun, belum diketahui dengan pasti apakah memang semua transaksi menggunakan mata uang,” tulis arkeolog Supratikno Rahardjo dalam Peradaban Jawa.

Prasasti dari akhir abad 9 M hingga awal 10 M mengindikasikan mata uang perak dan emas telah umum digunakan. Jumlahnya terbatas dilihat dari nilai mata uang emas dan perak yang berharga besar. Maksudnya, untuk pembelian barang berharga tinggi, misalnya seekor kerbau kira-kira 39,569 gram emas atau mas 1 su. Jika dengan perak seberat 212,301 gram atau dha 5 ma 8. Sementara kambing, harganya pirak 4 ma.

Menurut berita Cina yang ditulis Chau Ju Kua, uang emas pada abad 13 M digunakan pula untuk menggaji pegawai. “Untuk barang yang berharga kecil tentunya ada jenis mata uang lain yang sampai sekarang belum pernah ditemukan,” tulis Riboet Darmosoetopo, epigraf dan pengajar arkeologi Universitas Gadjah Mada, dalam Sima dan Bangunan Keagamaan di Jawa Kuno IX-X TU.

Sebagian transaksi kemungkinan besar tidak menggunakan mata uang tetapi barter atau dengan mata uang Cina pada masa yang lebih muda. Namun, penggunaan mata uang logam khususnya emas dan perak telah dikenal di Jawa sejak akhir abad 8 M. Satuan untuk mata uang emas antara lain kati (754,667 gram), suwarna (39,569 gram), masa (2,473 gram), kupang (0,618 gram), dan saga (0,012 gram). Dalam penulisan satuan itu disingkat, seperti ma untuk masa.

Satuan untuk uang perak adalah kati (617,610 gram), dharana (38,601 gram), masa (2,412 gram), dan kupang (tak diketahui); atak sama dengan 2 kupang atau 0,5 masa.

“Satu kati sama dengan 20 dharana atau 20 suwarna sama dengan 20 tahil. Satu suwarna atau satu tahil sama dengan 16 masa dan 1 masa sama dengan 4 kupang,” tulis Titi Surti Nastiti, arkeolog Puslit Arkenas, dalam Pasar di Jawa Masa Mataram Kuna Abad VIII-XI Masehi.

Mata Uang Emas

Mata uang emas paling awal agaknya dibuat dalam bentuk batangan. Jumlahnya mungkin sedikit dan ukurannya, baik bentuk maupun berat, tak tentu. Berdasarkan temuan di Wonoboyo yang diperkirakan berasal dari abad 9-10 M, diketahui ada sebanyak 6000 mata uang emas dan 600-700 perak. Dari temuan itu hanya enam buah berupa batangan dengan ukuran kecil. Sementara bentuk dan beratnya tak terpola. “Ini mengindikasikan jenis mata uang ini tidak digunakan secara umum sebagai alat tukar,” tulis Supratikno.

Mata uang emas tipe piloncito paling umum ditemukan di Jawa Tengah periode abad 9-10 M. Ukurannya kecil, bentuknya seperti dadu gepeng, sudutnya membulat. Sebagian besar berupa segi empat dengan ukuran 6×6 mm atau 6×7 mm dengan ketebalan umum sekira 4 mm.

Hampir semua mata uang mewakili satuan nilai satu masa. Umumnya semua uang ini dikerjakan dengan hati-hati sehingga sesuai dengan satuan bakunya.

Mata uang dari masa ini juga punya ciri lain. Ada simbol baku yang dikenal dengan pola bijian atau wijen pada satu sisi. Di sisi lainnya memuat huruf Nagari dari India Utara dengan bacaan ta, singkatan dari tahil. Istilah tahil biasanya dijumpai dalam prasasti abad 9 M terutama berhubungan dengan pajak.

“Mata uang huruf ta tampaknya merupakan alat pembayaran pajak resmi,” lanjut Supratikno.

Huruf Nagari sendiri biasanya digunakan dalam prasasti Sanskerta yang berkaitan dengan Buddhisme, terutama abad 8 hingga awal abad 9 M, dan abad 13 M di Jawa Timur.

Ketika ibukota Mataram Kuno pindah ke Jawa Timur, tampaknya percetakan uang tetap berjalan. Ada temuan di Kediri yang diperkirakan berasal dari abad 12 M. Bentuknya lebih membulat daripada tipe piloncito. Namun, beratnya relatif sama.

Dibanding di Jawa Timur, distribusi uang emas di Jawa Tengah lebih banyak. Dari 51 penemuan di wilayah pusat dan pinggiran Jawa Tengah ditemukan sebanyak 5.583 buah. Sementara di Jawa Timur hanya delapan penemuan dengan jumlah total 537 buah. Berdasarkan temuan di Jawa, Bali, dan Filipina, diketahui satuan masa umum digunakan secara luas di wilayah Asia Tenggara abad 10-13 M.

Mata Uang Perak

Mata uang perak mungkin lebih dulu dipakai sebagai alat tukar dibanding emas. Temuannya banyak didapat di Jawa Tengah selatan. Berdasarkan paleografinya, temuan ini diperkirakan berasal dari abad 8 M. Mengenai fungsinya, tak banyak yang bisa dideskripsikan. Kendati begitu diperkirakan uang itu digunakan sebagai hadiah, sebagaimana informasi yang sering didapat dari prasasti.

Tanda baku mata uang perak berupa segi empat yang memuat gambar pola empat kelopak bunga cendana dengan pahatan yang dalam. Pola hias ini tak banyak berubah selama berabad-abad. Meski begitu, ukiran kelopak cendana tak hanya ditemukan pada uang perak. Beberapa uang logam lainnya juga dijumpai pola hias yang sama. Seperti pada mata uang emas dan perak di Sumatra dan Semenanjung Melayu.

Penyebutan mata uang perak dalam prasasti sampai puncaknya pada masa Balitung (898-910 M). Kala itu, mata uang mengalami penyeragaman, baik dalam bentuk seperti mangkuk maupun ukurannya.

“Mungkin ada pengendalian sistem moneter oleh pemerintah,” tulis Supratikno.

Sebaliknya, pada masa Jawa Timur, khususnya pada akhir abad 11 M, pengendalian satuan baku mata uang perak tampak makin lemah. Sebagian besar mata uang perak yang beredar lebih ringan. Kandungan tembaga makin banyak dibanding yang ditemukan dari periode Jawa Tengah. Penyebabnya kemungkinan karena inflasi atau adanya penyesuaian nilai mata uang dengan nilai intrinsiknya.

Gejala lainnya pada periode Jawa Timur sangat jarang ditemukan satuan mata uang perak dengan nilai kecil, terutama di bawah satu masa. Hal ini mungkin berkaitan dengan meningkatnya penggunaan mata uang Cina yang terbuat dari tembaga. Mata uang jenis ini makin dikenal sejak akhir abad 10 M atau awal abad 11 M seiring hubungan dagang yang terus meningkat dengan Dinasti Sung.