RANGKUMAN

Menjamin Kesehatan Jiwa Pimpinan Nasional

Demi kelangsungan Hidup Bangsa

Tb. Erwin Kusuma dr.SpKJ (K)

Sultan Residence 7 Maret 2018

 

Unsur kejiwaan dan Jasmani manusia:

Pada dasarnya manusia diciptakan oleh Tuhan semesta alam dalam bentuk Roh, yang dilengkapi dengan Jiwa dan Badan sebagai wadahnya.

  1. Roh / Spirit
  2. Jiwa / Soul / mind
  3. Badan / Body

Diandaikan satu komputer yang canggih, Roh/Spirit berfungsi sebagai Receiver yang mempunyai sifat “Surrender (to God)”. Roh merupakan “Lifeware”.

Jiwa/Soul berfungsi sebagai “Computer-Program”, software yang mengolah data untuk menghasilkan output yang diinginkan.

Badan / Body, berfungsi sebagai Hardware. Mempunyai sifat insani (mampu berpikir dan ber-bicara), sifat hewani (bergerak, bersuara), serta Nabati, diawal masa pertumbuhan nya. Ia mempunyai fungsi untuk merasa, bungkam, tumbuh mampu mencerna makanan.

Manusia sejak dilahirkan tumbuh menjadi dewasa, melalui tahapan-tahapan seperti diatas. Satu janin dalam kandungan dilengkapi dengan fungsi-fungsi nabati. Ia bungkam, tetapi mampu merasa, dapat merasakan nikmat atau ketegangan pada saat sang ibu merasakan hal yang sama. Seorang ibu yang merasa berbahagia pada saat mengan- dung, akan memancarkan rasa kasih sayang yang dapat dirasakan oleh sang janin.

Begitu dilahirkan ia memasuki taraf hewani, perilaku yang tampil dikuasai oleh otot dan refleks. Ia mampu bersuara, merasakan ketegangan dan rasa puas. Pendidikan yang efektif pada tahap ini, adalah dalam bentuk perintah dan larangan. Ia belum mampu berpikir.

Setelah mencapai usia 2-3 tahun, seorang anak mulai memasuki kemampuan fungsi berpikir dan bernalar, mulai dari tingkat yang sederhana sampai sejalan dengan tingkat pertumbuhannya mencapai usia dewasa, ia tumbuh mampu berpikir dan bernalar. Perkembangan emosinya pun semakin ter-differensiasi, ada warna emosi, ada dorongan agressivitas, ada rasa kasih sayang, sympathy maupun empathy dan lain sebagainya. Pertumbuhan spiritualitas (mampu merasakan dan meyakini adanya satu kekuatan abstrak yang mengendalikan kehidupan manusia dan alam semesta) dimulai pada usia sekitar 7 tahun. Namun hal ini sangat erat kaitannya dengan sistem nilai keluarga dimana ia tumbuh. Pada keluarga yang religius, pertumbuhan kepekaan spiritualitas pada anak-anak akan cepat terjadi.

Menyadari fase-fase pertumbuhan anak diatas, akan memudahkan kita dalam memba ngun karakter anak sesuai dengan nilai budaya yang kita inginkan.

Q & A

Menjawab pertanyaan utama: Jadi Jiwa yang sehat itu yang bagaimana?

  1. Erwin, Jiwa yang sehat dan dewasa adalah:

“ keadaan Optimal seimbang yang dinamis dari ketiga unsur kejiwaan diatas”.

Keseimbangan dinamis dari kesehatan Body, soul and Spirit.

  1. Kesehatan Jiwa seseorang (Calon Pimpinan) yang sifatnya dinamis, dapat diukur menggunakan alat ukur neurologis dan Psikometri
  • Pengukuran neurologis ditujukan untuk mengetahui kesehatan dari fungsi sistem syaraf. Apakah semua fungsi sistem syaraf bekerja dengan baik. Adakah gangguan-gangguan atau malfunction yang terjadi pada diri seseorang tadi? Setiap kelainan pada satu fungsi tertentu dari sistem syaraf, akan mempengaruhi tampilan perilaku individu tadi. Kalau gangguan terjadi pada sistem syaraf yang mengendalikan emosi seseorang, maka tampilan perilaku emosional orang tadi pun ikut terganggu. Demikian juga pada fungsi berpikir, maupun pada fungsi pengendalian dorongan vital seorang individu.
  • Pengukuran psikometri adalah assessement melalui apa yang biasa kita kenal sebagai Psiko-test.

Dari berbagai indikasi yang diperoleh dari kedua macam alat ukur diatas, di cocokkan dengan hasil wawancara yang dilakukan setelah menyelesaikan kedua test diatas.

  1. Ibu Sis:
  2. Spirit/Roh itu perlu dipelihara. Asupan apa yang harus diberikan untuk memelihara Spirit ini?
  3. Bagaimana membangun jiwa agar “I am O.K and you are O.K”.

 

  1. Erwin
  2. Dikalangan umat Islam, memelihara Spirit ini dilakukan dengan dengan men-dalami agama melalui santapan rohani, mencari makna kehidupan manusia se bagai ciptaan Tuhan, dan makna kehidupan dalam hubungan dengan sesama

manusia. Hubungan Vertikal antara dirinya dengan Tuhan yang menciptakan nya dan hubungan horisontal diantara sesama manusia.

  1. Membangun sikap Iam OK and you are OK, melalui pendidikan karakter mem-bentuk kepribadian yang matang. Seorang yang dewasa (mature), ditandai oleh a/l. mempunyai Konsep diri yang utuh, dalam arti menyadari kemampuan-kemampuan diri dan kelemahan atau keterbatasan yang ada dalam dirinya, ser ta dapat menerima kenyataan tersebut. Secara populer dikatakan bahwa ia sudah berdamai dengan dirinya sendiri. Kematangan ini menyebabkan ia mempunyai “sense of Humor” dalam arti ia mampu mentertawakan “kekonyol an” yang ia lakukan sendiri. Kalau ia dapat menerima kelemahan-kelemahan dirinya sendiri, maka dapat dipastikan ia akan dapat menerima kelemahan-kelemahan orang lain, sehingga dengan jernih ia dapat menyelesaikan masalah-masalah yang mungkin timbul dalam hubungan dengan orang lain tadi. Secara populer dapat diungkapkan sebagai “di hati yang damai akan diperoleh hubungan sosial yang damai pula”.
  2. Ibu Melly Kiong

Masalah peredaran Narkoba dan gejala perilaku kekerasan murid terhadap gurunya atau orang tuanya, dewasa ini banyak kita dengar. Sebelumnya dr. Erwin menceritakan pentingnya kasih sayang ibu terhadap janin sejak pembuahan, sampai 1000 hari kemudian, bagi perkembangan emosi anak. Saya melihat ada-nya korelasi antara pendidikan keluarga dari mana seorang anak berasal, dengan perilaku kekerasan dan keterlibatan dalam penggunaan narkoba yang dilakukan seorang anak seperti diatas.

Dengan demikian, seharusnya pemerintah memberikan perhatian pada pendidik- an “parenting” kepada keluarga-keluarga muda.

  1. Erwin:

Sependapat, oleh karenanya seharusnya para penasihat perkawinan yang banyak diundang dalam upacara-upacara pernikahan dewasa ini, hendaknya memasuk-kan kesadaran seperti diatas dalam nasihat-nasihatnya, agar pasangan orang tua muda ini menyadari pentingnya membangun “kedamaian” dalam keluarga yang mereka bina bersama.

  1. Q. Ibu Antin:
  2. Bagaimana bisa Trump yang kontroversiil bisa menjadi presiden di Amerika?
  3. Bagaimana bisa terjadi kekejaman massal seperti peristiwa G30S PKI. Apakah para pelaku kekejaman tadi sakit jiwa?
  4. dr. Erwin:
  5. Seandainya di Amerika Serikat ada proses pemeriksaan psikologis sebelum seorang calon presiden dapat mengikuti Pemilu Presiden, maka Tim pemeriksa Fit and Proper Test, bisa saja menemukan gejala-gejala psikologis yang tidak memenuhi persyaratan, seperti misalnya “emotional unstabllity” atau “kemampu -an pengendalian diri dalam situasi yang sangat menekan” agar dapat meng- ambil keputusan dengan jernih, tidak panik”.

Maka Tim penguji akan memberikan rekomendasi untuk tidak meluluskan pencalonan tokoh tersebut. Namun yang memutuskan, bagaimanapun, adalah Panitia pemberi tugas tadi, yang akan menggunakan pertimbangan politis sebagai kriteria.

  1. Usulan jawaban Wisnu, tentang terjadinya kekejaman massal seperti peristiwa G30S PKI :

Dalam psikologi sosial dikenal apa yang disebut “Psikologi massa”, dimana oleh seorang agitator, semangat massa tadi dibakar sedemkian rupa untuk berlomba-lomba menjadi pariot membela sesuatu yang mereka perjuangkan, hingga massa mau bergerak secara irrational mengikuti perintah pimpinan kelompok tadi. Semakin berani, dan semakin brutal perilaku seseorang semakin akan dianggap sebagai pahlawan. Dianggap sebagai Patriot yang berani.

Dengan membangun kebencian terhadap sasaran, karena dianggap meleceh-kan sesuatu yang diyakini bersama, sang Orator membakar rasa marah ang-gota massa tadi, sehingga suara hati nurani pribadinya berhasil dikalahkan oleh rasa marah tadi.

Dalam hal perilaku radikal yang dilakukan oleh perorangan, biasanya terjadi melalui proses “brainwashing” yang memakan waktu agak panjang, karena dilakukan melalui perubahan paradigma dalam diri pelaku tadi, terlebih dahulu. Dibangun kebencian dan kemarahan terhadap sasaran, karena ideologi atau karena konsep perjuangan dari individu sasaran yang dianggap membahaya kan bagi perjuangan-perjuang kelompok mereka, dan sebagainya. Kalau sampai ia harus berkorban untuk menghancurkan sasaran, ia akan mendapat ganjaran sorga, dan lain sebagainya.

Perubahan kesadaran seperti diatas dapat juga dilakukan melalui proses hypnose. Secara populer digambarkan bahwa si pelaku tadi telah di hipnotis oleh seorang “ahli-hipnose”, untuk melakukan tindakan-tindakan tanpa disadarinya. Orang biasa mengatakan bahwa orang yang dihipnotis tadi, telah  “digendam”. (Contoh, acara TV oleh “Si Kuya”).

  1. Q. Bpk Wibowo:
  2. Apa panduan bagi rakyat yang dapat diberikan agar mereka dapat memilih pimpinan yang sehat jiwanya?
  3. Bagaimana gejala-gejala seperti yang biasa dikatakan Napoleon, dibawah ini dapat dijelaskan?

“Orang yang disekolahnya pandai dan rajin malah tidak jadi pemimpin. Sedang kan mereka yang malas dan tidak terlalu pandai justru ketika bekerja malah menjadi pemimpin”.

  1. Dalam masa pertumbuhan cortex anak, pada usia berapa tumbuhnya konsep tentang salah dan benar?
  2. Bagimana membangun jiwa yang sehat agar bisa mencapai “ Iam Ok you are OK?
  3. Erwin:
  4. Untuk mengetahui gangguan jiwa pada diri seseorang, pada kasus-kasus yang tidak menyolok (ekstrim), tidak mudah. Seperti misalnya sifat “temperamental” dalam diri seseorang, biasanya hanya dapat diketahui orang lain disekeliling nya yang kerapkali ber-komunikasi dengan dia. Alat ukur psikometrik, dapat melihat indikasi-indikasi tersebut, namun itupun harus di uji ulang melalui wa- wancara dengan memberikan stimulus emosional tertentu.

Jadi seorang psikiater atau psikolog tidak dapat memberikan panduan umum bagi rakyat pemilih agar dapat mengetahui kesehatan jiwa seorang calon pe-mimpin.

  1. Jawaban Wisnu;

Sebenarnya ungkapan populer seperti itu tidak sepenuhnya benar. Terlalu menyederhanakan.

Persyaratan psikologis bagi seorang pemimpin adalah, ia harus memiliki:

  1. Knowledge
  2. Skill
  3. Attitude:
  4. Task Orientation
  5. Effectiveness

Seorang pemimpin yang baik apabila ia mempunyai knowledge, skill yang baik dan Atittude yang mendukung.

Seorang pimpinan akan memerlukan knowledge yang lebih luas, dan memerlukan skill teknis yang lebih sedikit. Tapi seorang staff, sebaliknya, harus memiliki skill teknis yang (lebih) kuat dibandingkan knowledge pendukungnya.

Dalam pengertian knowledge ini, termasuk dimilikinya visi oleh seorang pemimpin. Dengan dimilikinya Visi, maka seorang pemimpin dapat mengasah ketajaman intuisinya. Kedua kemampuan inilah yang membedakan seorang leader dari seorang manager. Seorang leader mampu membangun visi jauh kedepan, dan senantiasa mengasah intuisi-intuisinya dalam berbagai peng-ambilan keputusan

Mengenai attitude yang mendukung, ada tiga macam attitude yang dipersya-rat kan untuk menjadi seorang pemimpin.

Task Orientation menunjukkan sikap kerja seseorang. Berapa kuat kepeduli- an atau tanggung jawabnya atas tugas-tugas pekerjaan yang dihadapinya. Berapa besar perhatian yang ia curahkan untuk menyelesaikan permasalahan yang dihadapi dalam pekerjaannya.

Effectiveness: menunjukan berapa cerdas ia dapat menyelesaikan perma-salahan yang dihadapi dalam pekerjaannya, berapa kuat dampak dari keputus- an-keputusan yang diambilnya pada penyelesaian masalah yang dihadapinya.

Relationship: menunjukkan kemampuan membangun hubungan-baik dengan rekan kerja vertikal (atasan dan bawahan) maupun horisontal (dengan rekan kerja dibagian yang sama maupun bagian lain dalam organisasi), internal maupun eksternal yang mendukung pencapaian tujuan organisasi.

Seseorang dapat menjadi seorang Leader atau manager apabila ia memenuhi persyaratan di ke-enam aspek psikologis diatas. Kedua persyaratan pertama, yi, Knowledge dan skill merupakan persyaratan mutlak.

Idealnya seorang pemimpin memiliki kekuatan di ketiga sikap tadi, secara seimbang, sama kuatnya. Namun dalam prakteknya, sangat jarang kita temu-kan pemimpin yang seperti itu. Pada umumnya kuat di satu atau dua sikap tertentu, tetapi kurang kuat di sikap yang lain. Kombinasi kekuatan/ kelemahan dari tiga sikap diatas, akan membentuk 8 type kepemimpinan. (J.W. Redin)

Sifat organisasi yang akan dipimpin, akan membutuhkan type kepemimpinan yang berbeda. Misalnya, dalam organisasi militer, seorang komandan la-pangan dengan Task Orientation dan effectiveness yang kuat, namun relation-ship yang kurang kuat, masih bisa menjadi pimpinan yang sukses. Karena hubungan kerja yang ia butuhkan sudah diatur dalam SOP yang baku.

Akan tetapi untuk menjadi seorang jenderal, ia harus memiliki kekuatan di ketiga sikap diatas, atau dengan kata lain kemampuan diketiga sikap tadi diatas rata-rata. Jadi ada standard minimum yang harus dikuasai seorang pim-pinan.

  1. Pertumbuhan cortex, pada usia berapa seorang anak mampu menangkap konsep tentang benar versus salah?

Pertama-tama perlu dimengerti terlebih dahulu bahwa ibarat computer, neo cortex yang terdiri dari dua belah (hemisphere) ini, mempunyai fungsi sebagai processor dan memori sekaligus. Hemisphere kiri bertugas memproses informasi untuk berpikir logis, sistematik dan Rational. Sedangkan hemisphere kanan memproses informasi secara holistik, emosional dan irrational. Hemisphere kanan ini sumber dari perilaku kreatif. Out of the box. 1)*

Sedangkan jaringan otaknya itu sendiri adalah ibarat hard ware.

Jadi kalau ditanya kapan perkembangan otak dalam masa pertumbuhan anak menjadi lengkap siap untuk digunakan? jawabannya adalah ketika seorang anak mencapai usia 3 tahun. Tapi kalau ditanya kapan ia dapat membedakan antara benar dan salah? Tidak mudah untuk menjawab begitu saja, karena neo-cortex akan memproses pertanyaan itu kedalam memory yang ada dan kemudian memutuskan jawaban yang akan diberikan. Padahal memory tadi akan tumbuh dengan terjadinya semakin banyak interkoneksi antar neuron yang ada di berbagai belahan otak diatas. Interkoneksi terjadi karena adanya pengalaman dan pendidikan (yang tepat), yang dialami oleh seorang anak, yang akan menumbuhkan kecerdasan si-anak.

Yang menjadi pertanyaan kemudian, data apa yang sudah tersimpan dalam memory anak pada usia 3 tahun tadi ? Tentunya berisi data yang diperoleh dari pendidikan keluarga, dan pendidikan di PAUD, melalui penanaman kebiasaan-kebiasaan baik dan larangan-larangan akan perbuatan yang dianggap buruk.

Dengan demikian bilamana otak seorang anak dapat menentukan salah atau benar adalah mulai kira-kira pada usia 5 tahun untuk hal-hal yang sederhana dan semakin bertambah umur kepada permasalahan yang makin kompleks.

  1. Bagaimana membangun karakter yang Iam OK and you are OK?

Mohon periksa jawaban 3.b diatas.

7 Q. Ibu Tri:

  1. Dalam kehidupan masyarakat Jawa, dikenal tingkatan-tingkatan spiritualitas, Sembah Rogo, Sembah Cipta, Sembah Jiwa dan Sembah Rasa.

Apakah ini cocok dengan tingkatan-tingkatan yang digambarkan oleg dr. Erwin

  1. Apakah kesehatan jiwa seseorang dapat dibaca dari wajah seseorang?
  2. Banyak masyarakat Amerika mengatakan bahwa Presiden Trump itu sakit jiwa. Benarkah demikian?
  3. Apa yang terjadi pada seorang stress?
  4. Erwin:
  5. Mungkin juga sama, akan tetapi saya tidak mengetahui konsep spiritualitas masyarakat Jawa tersebut
  6. Sampai batas-batas tertentu, pada kasus-kasus yang relatif sederhana, pada

 

1)* Conny R. Semiawan: Strategi Pengembangan Otak – dari Revolusi Biologi ke Revolusi Mental. 2017.

Umumnya dapat saya baca. Paling tidak tampak beberapa indikasi tertentu. Namun dalam kasus yang berat, seperti psikopat yang biasanya, ia sangat pandai menyembunyikan ekspressi-ekspresinya, diperlukan pengamatan dan pengujian bebe-rapa waktu.

  1. Mohon periksa jawaban 6.a. diatas. Tentang Trump, tidak tau apakah presiden Trump sakit jiwa atau tidak, karena itu politik di Amerika
  2. Sama dengan jawaban 3.b.
  3. Q. Ibu Ranti:
  4. Mengapa banyak terjadi Islam yang Konotatif
  5. Bagaimana kita bisa membawa masyarakat ke arah “berserah diri”
  6. Apakah kemampuan empathy bisa langsung dikuasai, atau harus bertingkat mulai dari sympathy terlebih dahulu?
  7. dr. Erwin
  8. Karena mereka baru sampai pada tingkat syariat dan belum sampai kepada tingkat berserah diri
  9. Dalam agama Islam banyak guru agama yang bisa membimbing santri-santri-nya untuk mendalami hakekat keislaman, mencari Nur Illahi. Ini tidak terjadi dalam waktu singkat, karena dalam proses menuju ke taraf itu, sang santri ha- rus mampu melepaskan nafsu, ambisi, ego-nya, dan seterusnya. Berdzikir ada lah salah satu cara untuk seorang santri mampu memusatkan perhatiannya ke-dalam dirinya untuk melakukan pencariannya.
  10. Sympathy adalah kepedulian dan merasakan kebutuhan untuk memberikan dukungan atau keberpihakan.

Empathy, adalah sikap/perasaan yang lebih tinggi lagi, yakni dapat turut merasakan. Share the feeling. Rasanya, untuk dapat ber-empathy, tentunya dimulai dari sympathy terlebih dahulu.

  1. Note. Dra. Airin Marnissa Chairini, Psikolog (Assessor)

Menambahkan penjelasan dr. Erwin dalam melakukan assessmen kesehatan jiwa (psikiatri) maupun aspek Sikap-mental (oleh Psikolog), ia menambahkan penjelasan mengenai assessment psikologis yang biasa dilakukan dalam satu Fit and Proper Test, sebagai berikut:

Aspek psikologis yang akan digali dalam asesmen psikologis, meliputi:

  1. Potential Intelligence
  2. Working Attitude
  3. Personality Development

Aspek faktual yang harus digali untuk mendapatkan ketiga hal diatas, adalah melalui pengukuran kompetensi-kompetensi yang menunjukkan seberapa jauh kemampuan:

  • Inteligensia umum (kecerdasan umum) baik yang potensial maupun yang sudah teraktualisasi.
  • Emotional Intelligence (Kecerdasan emosional dan sosial meliputi kepekaan dan kemampuan pengendalian perasaannya untuk dapat bereaksi secara wajar)
  • Spiritual Intelligence (Kecerdasan spiritual), meliputi kepekaannya terhadap nilai-nilai Spiritual ataupun Ideologis kebangsaan yang menjadi pedoman perilaku seseorang warga negara disatu sisi, dan kepekaannya terhadap ekspektasi ma- syarakat disisi lainnya, agar ia mampu menampilkan perilaku yang wajar dan sesuai dengan belief/ideologi yang ia anut.
  • Beberapa karakter inti yang perlu digali dalam hubungan ini, antara lain adalah, yang menyangkut Leadership & managerialship (Task Orientation, Effectiveness & Relationship), seperti:
  • Integritas (komitmen dan konsistensi, menunjukkan Task Orientation)
  • Komunikasi (utk mengukur Relationship dan effectiveness)
  • Teamwork & Networking capability (mengukur kemampuan beradaptasi sosial dan mengarahkan orang lain sebagai leader)
  • Keterampilan teknis terkait dengan tugasnya.
  • Berdasarkan beberapa indikasi yang diperoleh melalui asesmen psikometris di-atas, selanjutnya dilakukan wawancara untuk mengkonfirmasikan berbagai hal yang dianggap penting.

Laporan hasil asesmen psikologis (yang mengacu pada kamus kompetensi yang ba-ku), akan dilengkapi dengan deskripsi dari berbagai aspek psikologis yang diukur.

 

Note: Wisnubroto, tambahan penjelasan menjawab pertanyaan Prof. La Ode.

Sesuai dengan pengalaman dimasa lalu, dalam melakukan Fit and Proper Test bagi Calon Direksi BUMN Industri Strategis, biasanya kami memberikan semacam TOR kepada “Tim Fit and Proper Test”, berisi penjelasan mengenai berbagai latar belakang perusahaan yang akan mereka pimpin, seperti misalnya, Jenis Usaha, Organisasi perusahaan, missi yang dibebankan kepada perusahaan, target-target secara umum yang diharapkan dapat dicapai, serta “Sistem Nilai” (Value) yang diguna-kan sebagai pedoman perilaku Direksi dalam menjalankan tugasnya, kelak.

Berdasarkan penjelasan diatas, Tim Teknis (profesi), Tim Kedokteran, Tim Psikiatri dan Tim Psikologi menetapkan persyaratan-persyaratan Teknis, medis, psikiatris dan psikologis beserta masing-masing kriterianya.

Proses asesmen diatas biasanya dilakukan melalui beberapa tingkat, yakni:

(1)   Asesment teknis (profesi) oleh Tim Teknis

(2)   Asesmen Kesehatan oleh Tim Dokter

(3)   Asesmen Psikiatris dan Psikologis, oleh Tim Psikiater dan Psikolog.

(4)   Rapat integrasi data oleh tim pemeriksa/asesor untuk menyelaraskan hasil ketiga bentuk asesmen diatas.

Sejalan dengan pengalaman diatas, maka seyogyanya untuk jabatan publik, proses asesmen atas rumusan kerangka konseptual yang dibuat oleh calon pejabat diatas, akan dilakukan oleh Tim Teknis (Profesi).

Tim Teknis akan menilai, bagaimana Visi, strategi pencapaian sasaran dan program kerja yang akan dilakukan dalam jabatan yang akan ia isi, jika terpilih kelak.

Untuk itu, masing-masing lembaga eksekutif maupun judikatif, jika akan mengisi beberapa jabatan publik dilingkungan mereka, seyogyanya mereka membentuk Tim Teknis yang akan menguji kemampuan profesional, politik dan ketata-negaraan dari para calon pejabat publik tadi. Setelah lembaga tadi mendapatkan beberapa calon yang lulus, selanjutnya diajukan ke DPR-RI untuk menjalani Fit and proper test.

Kembali ke Pokok Pembahasan dalam FGD ini:

Untuk calon Presiden, sesuai Undang-undang yang berlaku, diwajibkan untuk men-jalani pemeriksaan kesehatan fisik dan Kesehatan jiwanya. Oleh karenanya, langkah-langkah yang dilakukan dalam hubungan ini, akan meliputi:

(1)   Pemeriksaan kesehatan fisik yang biasa,

(2)   Pemeriksaan neurologis dan asesmen Psikiatris oleh Tim Dokter Spesialis Psiki-atri dan Tim Psikologi menggunakan alat psikometri dan metoda Assessment Centre.

 

 

-o0o-

 

 

FGD Kesehatan Jiwa

7 Maret 2018

Tim Perumus Notulasi,

 

Wisnubroto

Irawan S.