MONGOL sukses mengembangkan imperium yang luas karena angkatan daratnya ulung, khususnya keahlian dalam berkuda. Imbasnya, pada abad ke-13 M, seluruh daratan Eurasia tak luput dari kehadiran orang-orang Mongol. Kesuksesan itu masih diwarisi oleh Khubilai Khan hingga dia menaklukkan seluruh Tiongkok.

Namun, kelihaian mereka berperang tersendat ketika menghadapi kondisi wilayah Asia Tenggara. “Bala tentara China-Mongol di negeri-negeri itu hanya menemui kegagalan atau keberhasilan sementara,” tulis George Coedes dalam Asia Tenggara Masa Hindu-Buddha.

Kalah Karena Kuda

Adieyatna Fajri, dosen arkeologi Universitas Gadjah Mada, mengatakan praktik menggunakan kuda sebagai alat militer sudah lama digunakan orang-orang di kawasan Asia Tengah. Melalui teknik melatih orang dan kuda, bangsa Mongol menciptakan pasukan yang bisa melakukan ekspedisi penaklukkan yang luas.

“Pasukan kavaleri semacam ini sangat efektif untuk menyerang daerah-daerah yang kebanyakan penduduknya sedenter (menetap),” jelas Fajri kepada Historia.

Namun, kata Fajri, kepiawaian berperang dengan kuda juga harus didukung kondisi medan perang yang luas. Pasukan berkuda memang terbukti berjaya di Asia Tengah. Tapi itu bukanlah jawaban untuk meraih sukses serupa di Asia Tenggara. Sepertinya mereka kesulitan mengaplikasikan ilmu itu di tanah ini, yang wilayahnya bukan berupa padang stepa.

“Kuda itu paling cocok habitatnya di Asia Tengah yang daerahnya stepa,” lanjutnya. Karenanya dia pun yakin kegagalan Mongol di Asia Tenggara disebabkan strategi kavaleri mereka tak berjalan sebagaimana sebelumnya.

Dalam sumber Tiongkok, yang tercatat di Sejarah Dinasti Yuan, ketika menyerang Jawa, pasukan Mongol dibagi dalam dua kekuatan. Kekuatan pertama dikirim lewat jalur darat. Separuh lainnya lewat jalur laut menggunakan kapal. Mereka pergi ke pedalaman Jawa lewat Sungai Sugalu (Sedayu). Dari sana menuju sungai kecil Pa-tsieh (Kali Mas).

Meski tak disebutkan berapa banyak kuda yang dibawa, dalam keterangan itu disebutkan pasukan terdiri dari dua kelompok: kaveleri dan infanteri. Menurutnya, kelompok kavaleri ini terdiri dari kelompok pemanah berkuda Mongol yang punya reputasi kuat dalam berbagai pertempuran sukses di masa lalu.

“Mongol tanpa kuda, mereka itu bukan apa-apa. Jadi kemana pun mereka pasti akan membawa kuda. Sama dengan orang Jerman yang selalu membawa tank,” ujar Fajri.

Sayangnya, Jawa tidaklah sama terutama dari segi kewilayahan. Di Jawa, wilayah dengan padang rumput sulit ditemui. Sementara, tentara Mongol datang ke Jawa via Tuban. Pada abad ke-13, sebagian besar Jawa masih ditutupi hutan.

Orang-orang Mongol tak bisa berperang secara efektif di hutan lebat. Kuda-kuda mereka bergerak di ruang yang lebih sempit dari yang seharusnya.

Karenanya, menurut pendapat Fajri, khususnya di Jawa, kuda tak pernah menjadi pelengkap perang. Paling tidak sebelum kedatangan tentara Mongol. Di Jawa, kuda lebih berguna sebagai moda transportasi. Kalau bukan itu, fungsi lainnya adalah untuk simbol stratus. Misalnya dipakai dalam sebuah iring-iringan anggota kerajaan. Relief Candi Borobudur (9 M) dan Candi Prambanan (10 M) menunjukkan hal yang sama soal fungsi kuda pada masa ini.

Peran kuda makin banyak ketika masuk masa Majapahit. Seperti ditunjukkan dalam literatur Jawa, kidung Ranggalawe dan kidung Sunda. Di sana disebutkan alat-alat berkuda yang lebih lengkap, misalnya pelana, harness, dan bahkan beberapa ornamen lain seperti rumbai, hiasan pada pelana dan ekor.

“Ini menunjukkan adanya pengetahuan yang lebih tentang berkuda,” kata Fajri.

Hal itu didukung oleh relief di Candi Panataran. Di relief digambarkan empat ekor kuda menarik sebuah kereta. Seseorang pemanah berdiri di atas kereta itu. Sementara empat penari perempuan digambarkan di depan kereta tadi. “Gambaran itu mungkin salah satu bagian dalam Negarakrtagama yang menggambarkan kegiatan berburu Hayam Wuruk,” jelas Fajri.

Menariknya lagi, di candi yang sama terdapat relief tokoh Indrajit, putra Rahwana, yang digambarkan sedang memanah dari atas kuda. Teknik berkuda ini merupakan keahlian tingkat tinggi yang terkenal dimiliki oleh bangsa Mongol.

“Meski belum ada bukti pendukung soal keterampilan memanah dari atas kuda dalam peperangan Jawa pra-modern, paling tidak teknik seperti itu sudah pernah disaksikan orang Jawa bersama datangnya Mongol pada 1293,” jelas Fajri.

Tetap saja, selain fungsinya sebagai penambah daya dalam peperangan, kuda di era Majapahit masih diperuntukkan bagi hewan pekerja dan status sosial. “Namun memang soal kekalahan Mongol di Jawa karena kurangnya padang rumput ini harus dipelajari lebih lanjut,” kata Fajri.

Bukan Bangsa Pelaut

Terlepas apakah kegagalan tentara kaveleri Mongol berkontribusi dalam kemenangan Jawa atas Mongol, kondisi Nusantara yang berupa kepualauan itu pun sudah menyulitkan mereka. “Sebelum tiba di Jawa, tentara Mongol harus berlayar melintasi Samudera selama 68 hari,” kata Fajri.

Dalam Sejarah Dinasti Yuan tentara yang dikirim ke Jawa merupakan gabungan prajurit dari Propinsi Fujian, Jiangxi, dan Huguang. Jumlahnya mencapai 20.000. Kapal yang dipakai ada 1.000, dilengkapi perbekalan untuk satu tahun dan 40.000 batang perak.

Hal itu juga diungkapkan Shi Bi, komandan yang memimpin ekspedisi ke Jawa dalam catatannya di Sejarah Dinasti Yuan. Pada bulan ke-12 1292, dia yang membawa 5.000 prajurit berangkat menuju Quanzhou. Saat itu angin bertiup sangat kencang dan lautan begitu bergelombang. Akibatnya, kapal terombang-ambing. Para prajurit pun tak mampu makan selama berhari-hari.

Kala itu mereka melewati Samudera Tujuh Pulau (Kepulauan Paracels) dan Long Reef (Macclesfield Bank). Mereka melewati tanah Jiaonzhi dan Champa. Pada bulan pertama tahun selanjutnya mereka tiba di Kepulauan Dong Timur (Natuna?), Kepualaun Dong Barat (Anamba?), memasuki Samudera Hindia, dan berturut-turut tiba di Pulau Zaitun (?), Karimata, dan Gao-lan (Belitung?). Mereka tiba di sana pada bulan pertama 1293.

Pada bulan kedua, sebagian pasukan, di bawah komando Shi Bi dan salah satu asistennya, Gao xing, melanjutkan pelayaran ke Karimon (Karimun Jawa). Dari sana baru ke Du-bing-zu (Tuban) untuk bertemu kembali dengan pasukan Ike Mese, yang mendahului untuk membawa perintah kaisar ke Jawa.

W.P. Groeneveldt dalam Nusantara dalam Catatan Tionghoa menyebut armada Mongol yang berlayar dari Quanzhou di Fujian tidak mengikuti rute biasanya, yaitu menyusuri pesisir Malaka dan Sumatera. Mereka justru berlayar di tengah lautan dan dengan berani mengambil rute lurus terdekat menuju tujuannya.

“Atas alasan ini, pulau-pulau yang mereka temui dalam perjalanan ini tidak disebutkan dalam catatan lainnya,” kata dia.

Akibat keputusan itu, tampaknya mereka mengalami kesulitan. Di Pulau Ge-lan atau Gao-lan, kapal-kapal harus diperbaiki. Di samping itu mereka juga membuat perahu-perahu kecil untuk memasuki sungai.

Hal yang sama diungkap sejarawan Queens College dan Universitas Columbia, Morris Rossabi dalam Khubilai Khan: His Life and Times tentang kegagalan ekspedisi Mongol ke Jepang. Ketika harus melakukan perang di laut, ini menjadi keputusan yang mengerikan bagi pasukan Mongol. Kedua upaya ke Jepang itu, pada 1274 dan 1281, digagalkan oleh cuaca buruk dan cacat dalam desain kapal. Armada mereka hancur lebur.

“Ini bisa dibilang konyol. Mongol bukanlah negara maritim,” ujar Dwi Cahyono, pengajar sejarah di Universitas Negeri Malang, kepada Historia.

Menurutnya, dari ribuan kapal yang sampai di Jawa Timur hanya sebagian kecil yang tersisa. Banyak yang tewas. Baik karena serangan bajak laut, maupun penyakit.

“Mongol itu nggak jago berlayar. Apalagi paling sulit melintasi Laut Cina Selatan,” kata Dwi.

Meski kenyataannya, paling tidak menurut catatan Gao Xing, bangsa Mongol dapat membunuh Jayakatwang, dalam catatan Sejarah Dinasti Yuan sebanyak 3.000 pasukan mereka tewas. Selain dibunuh tentara Jayakatwang, sebagian besar tentara Mongol tewas akibat dikibuli Raden Wijaya. Pendiri Kerajaan Majapahit ini berbalik memberontak setelah Mongol membantunya membunuh Jayakatwang.

“Mongol memang tidak memperhitungkan bahwa Kadiri itu punya kemungkinan memberontak,” ujar Fajri.

Belum lagi, tentara Mongol harus berhadapan dengan iklim khatulistiwa yang panas terik. Ini memungkinkan bagi pasukan Raden Wijaya lebih mudah mengusir pasukan Khubilai Khan itu.

“Meski tentara berkuda Mongolia terkenal hebat, angkatan daratnya ulung, namun dalam ekspedisi kali ini mereka tidak berhasil karena tidak tahan akan panasnya udara,” tulis Slamet Mujana dalam Menuju Puncak Kemegahan.

Ekspedisi Mongol ke Jawa sepertinya memang bukanlah hal yang mudah. Setidaknya sejak awal mereka tak pernah berpikir itu mudah. Sejarah Dinasti Yuan mengungkapkannya begitu. Tertulis di sana, Jawa adalah satu-satunya negara yang harus diserang dengan sebuah angkatan perang.