MENGGALANG KETERPADUAN POTENSI RAKYAT DALAM KETAHANAN NEGARA BANGSA

Perspektif Historis Dr. Saafroedin Bahar Rangkuman Eksekutif Dalam kurun waktu yang cukup lama, peran rakyat dalam kehidupan bernegara – termasuk dalam bidang pertahanan keamanan – adalah bersifat pasif. Peran ini berubah drastis sewaktu sebuah negara kebangsaan didirikan, dimana keterlibatan seluruh rakyat merupakan kebutuhan. Masalah yang timbul dan harus diselesaikan adalah bagaimana caranya keterlibatan tersebut dituangkan ke dalam tatanan jika rakyat tersebut terdiri dari demikian banyak ras, suku, agama, dan golongan, dan hidup di kepulauan yang banyak dan tersebar di daerah yang luas. Masalah ini semakin kompleks sewaktu kehidupan masyarakat itu sendiri menjadi sasaran utama dari perang bentuk baru, perang subversi, asymmetric warfare, modern warfare, atau war by proxy, yang tidak segera dapat dikenal sebagai ancaman terhadap kehidupan negara kebangsaan. Pengantar Dalam kurun waktu yang cukup lama, pertahanan negara merupakan tugas sebuah kelas khusus dalam masyarakat, yaitu kelas prajurit atau kelas kesatria, yang dipimpin oleh para raja, panglima perang, atau para jenderal. Masyarakat sipil hanya memegang peranan pasif, baik sebagai penonton, prajurit rendahan, ataupun lebih buruk, sebagai korban. Para raja, para panglima perang, dan para jenderal inilah yang memikirkan, merancang, dan memimpin peperangan itu yang bertujuan untuk menundukkan musuh, secara kasar atau secara halus. Teramat sering para raja, panglima perang, atau para raja tersebut tidak peduli dengan korban masyarakat sipil yang jatuh dalam peperangan itu, yang biasanya mereka sebut sebagai ‘ korban sampingan’ ( collateral damage ). Pertahanan – atau...

Read More