Select Page

Kategori: Materi DPS

PENGEMBANGAN PANCASILA SEBAGAI TEORI KRITIS, SUATU GAGASAN

Oleh Hernowo Hadiwonggo Teori Kritis Menurut Dr. Soerjanto Poespowardojo (dalam Diskursus Teori-Teori Kritis, Prof. Em. Dr. Soerjanto Poespowardojo &  Dr.  Alexander Seran MA.; Penerbit Buku Kompas – 2016), Teori Kritis adalah teori sosial yang berupaya menganalisis sisi gelap abad ke-20, yakni tercerabutnya sisi kemanusiaan dari kehidupan sosial. Tujuan Teori Kritis adalah mengubah orientasi masyarakat dari kemajuan zaman modern yang ditandai oleh kemegahan dan kemewahan pembangunan fisik yang ternyata tidak bisa dinikmati semua golongan umat manusia; bahkan sebagian, terutama golongan-golongan yang kalah, justru tercerabut dari masyarakat dan eksistensinya sebagai makhluk mulia. Pengembangan Pancasila Sebagai Dasar Negara Menjadi Kajian Ilmu   Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia dalam rapatnya yang pertama dan terakhir pada tanggal 18 Agustus 1945 telah bersepakat menetapkan Pancasila sebagai dasar negara, seperti yang tercantum dalam anak kalimat pada Alinea ke-4, yakni: “…….yang terbentuk dalam suatu susunan Negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat dengan berdasar kepada Ketuhanan Yang Maha Esa, kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan Indonesia dan kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan-perwakilan, serta dengan mewujudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.”   “……..Pancasila diucapkan dalam lingkungan sebuah badan yang bertugas berusaha menyiapkan kemerdekaan suatu negara, bahkan kemerdekaan itu masih harus diperjuangkan, pidato itu sudah selayaknya terutama bersifat politis, akan tetapi bagi orang yang dapat menyelami inti dan jiwa pidato Paduka Yang Mulia  tidak hanya politis, menampak dengan jelas, sebagaimana telah disimpulkan dalam kata-kata yang dipakai...

Read More

MEMBANGUN KETAHANAN BUDAYA DALAM MENGHADAPI PERANG GENERASI KEEMPAT

Pontjo Sutowo Makalah untuk Simposium Nasional Kebudayaan PPAD, 24 Agustus 2017 Pengantar Rasanya, topik bahasan kita hari ini, yaitu “Membangun Ketahanan Budaya dalam Menghadapi Perang Generasi Keempat” akan merupakan topik paling penting dalam keseluruhan focus group discussions menjelang Simposium Nasional Kebudayaan yang akan diadakan bulan November yang akan datang. Mengapa tidak? Oleh karena Perang Generasi Keempat yang dilancarkan musuh – baik dari luar maupun dari dalam – bertujuan untuk melumpuhkan keseluruhan sistem nilai dan tatanan institusional kebudayaan yang merupakan jati diri dan kekuatan batin suatu Bangsa. Jika sistem nilai dan tatanan institusional kebudayaan ini dapat mereka lumpuhkan maka hanya soal waktu saja Bangsa dan Negara kita akan mereka kuasai, baik secara langsung maupun secara tidak langsung. Masalahnya adalah bahwa justru dalam sistem nilai dan tatanan institusional kebangsaan ini terletak kekuatan dan kelemahan Bangsa kita. Sistem nilai dan tatanan institusional kebangsaan ini pada suatu sisi merupakan kekuatan kita, oleh karena kita telah berhasil mengidentifikasi dan merumuskan unsur-unsur bersama dari demikian banyak subkultur dari Bangsa kita yang bermasyarakat majemuk ini. Esensi dari unsur-unsur bersama dari sistem nilai dan tatanan institusional kebangsaan ini telah dikristalisasikan dalam empat alinea Pembukaan dan Batang Tubuh – serta Penjelasan Umum – Undang-Undang Dasar 1945. Namun  pada sisi lain, justru pada sistem nilai dan tatanan institusional kebangsaan itu juga terletak kelemahan kita. Ada dua faktor penyebabnya. Faktor penyebab pertama sudah demikian sering ditengarai oleh pakar kebudayaan kita,...

Read More

KETAHANAN NASIONAL dan PERTAHANAN NEGARA

Disampaikan Sutrimo, Dirjen Potensi Pertahanan Kemhan                  pada Diskusi Panel Serial 2017-2018 Menggalang Ketahanan Nasional Untuk Menjamin Kelangsungan Hidup Bangsa Pendahuluan Mengawali pembicaraan ini, saya ingin menyampaikan terimakasih kepada panitia yang mengundang saya selaku Direktur Jenderal Potensi Pertahanan Kementerian Pertahanan (Dirjen Pothan Kemhan), untuk ikut berbicara masalah ketahanan nasional dari perspektif pertahanan negara. Dalam konteks Indonesia, ketahanan nasional atau national resillience memiliki dua pengertian, yaitu sebagai metode, dan sebagai kondisi. Dalam pengertian sebagai metode, ketahanan nasional adalah hasil penjumlahan dari seluruh  Gatra yang jumlahnya dikelompokkan menjadi 8 gatra  atau astha garta (pancagatra dan trigatra). Pancagatra  sebagai gatra sosial terdiri atas gatra ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya dan pertahanan – keamanan. Iptek, saya anggap sudah termasuk ke dalam gatra sosial budaya, karena merupakan hasil karya cipta manusia. Sedangkan Trigatra sebagai gatra alamiah terdiri atas wilayah, sumber daya alam dan penduduk. Dalam pengertian sebagai kondisi, ketahanan nasional adalah suatu kondisi yang memiliki kemampuan, keuletan, daya tangkal, dan ketangguhan di dalam menghadapi dan mengatasi segala bentuk ancaman, tantangan, hambatan dan gangguan dari semua aspek kehidupan sehingga dapat menjamin kelangsungan berbangsa dan bernegara. Dengan segala keuletan dan kemampuannya, maka bangsa dan negara Indonesia diharapkan dapat berkembang dan membangun peradabannya. Pada kesempatan ini, saya ingin berbicara ketahanan nasional dari perspektif penyiapan potensi untuk mendukung kekuatan pertahanan negara, yakni sistem pertahanan negara, kesadaran bela negara dan pembangunan industri...

Read More

MEMBANGUN KARAKTER BANGSA BERDASARKAN NILAI-NILAI KEINDONESIAAN

Soeprapto – LPPKB   Hilang harta dapat dicari, Berkurangnya kesehatan dapat kembali, Hilang karakter hilang harga diri.   PENGANTAR   Reformasi telah berlangsung sepuluh tahun lebih, namun hasilnya belum seperti yang diharapkan sesuai dengan agenda yang dicanangkan oleh para pencetus, pemrakarsa dan pemikir reformasi. Bahkan seorang aktor intelektualis reformasi pada tanggal 1 Juni 2007 dalam salah satu kesempatan menyatakan bahwa reformasi telah kehilangan rohnya. Mengapa sampai demikian? Pernyataan tersebut didasarkan pada fenomena yang dapat kita amati, di antaranya :   Implementasi demokrasi dalam bidang kehidupan politik mengarah pada tindakan anarkis. Pelampiasan kebebasan yang tidak terkendali sebagai ungkapan rasa ketidak puasan terhadap kebijakan pemerintah, atau kondisi kehidupan yang dinilai kurang adil dan belum dapat memberikan kehidupan yang sejahtera, selalu berakhir pada tindak demonstrasi yang disertai dengan pengrusakan sarana dan prasarana publik.   Otonomi daerah, utamanya otonomi khusus, yang betujuan untuk memberikan keleluasan daerah untuk mengembangkan potensi daerah, serta budaya daerah, bermuara pada tindakan disintegrasi bangsa dan separatisme, bahkan memberikan peluang berkembangnya dorongan pada beberapa propinsi untuk memisahkan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Hal ini terbukti dengan maraknya kembali gerakan-gerakan seperti GAM, RMS dan OPM.   Karakter masyarakat meluncur sampai pada titik yang sangat mengkhawatirkan. Mereka kehilangan pegangan yang dipergunakan dalam bersikap dan bertingkah laku. Masyarakat tidak dapat lagi membedakan perkara yang baik dan perkara yang buruk. Segala perkara dihalalkan untuk dilakukan, bahkan iri hati, dengki, dendam, menghujat, mencaci maki,...

Read More

KATA SAMBUTAN KETUA UMUM ALIANSI KEBANGSAAN, FKPPI DAN PEMBINA YAYASAN SULUH NUSWANTARA BAKTI

Saudara Moderator, Penyeimbang, dan hadirin serta hadirat yang saya hormati. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Izinkanlah saya mengucapkan selamat datang dalam sesi ke dua dari rangkaian Diskusi Panel Serial dengan tema “ Menggalang Ketahanan Nasional untuk Menjamin Kelangsungan Hidup Bangsa “. Dari tema besar ini, terlihat jelas bahwa – berbeda dengan dua kali Diskusi Panel Serial dua tahun yang lalu yang lebih bersifat konseptual dan teoretikal – focus perhatian kita kali ini adalah pada saran kebijakan tentang suatu masalah yang sangat penting, yaitu kelangsungan hidup bangsa. Seperti saya sampaikan dalam acara pembukaan awal April yang lalu, setiap bangsa dan negara bertanggungjawab atas kelangsungan hidupnya sendiri. Dalam hubungan internasional, memang sama sekali tidak ada jaminan terhadap kelangsungan hidup suatu bangsa atau suatu negara. Suatu bangsa atau suatu negara bisa runtuh kapan saja, baik oleh karena sebab dari dalam maupun oleh karena sebab dari luar. Salah satu sebab dari dalam dari runtuhnya bangsa dan negara adalah kegagalannya dalam mencapai tujuan pembentukan bangsa dan negara itu, baik dalam bidang kesejahteraan maupun dalam bidang keamanan. Keadaan inilah yang sekarang disebut sebagai ‘ gagal negara ‘ atau state failure. Sudah barang tentu faktor yang paling menentukan dalam hal ini adalah kualitas dan kinerja pemerintahannya, yang tercermin dari kegagalan dalam penegakan hukum atau dalam penyediaan kebutuhan pokok masyarakat. Salah satu faktor dari luar dalam runtuhnya suatu bangsa dan negara adalah invasi, agresi, atau serangan militer dari sebuah...

Read More