Select Page

Penulis: Admin 2

Mata uang kuno

JUAL beli bukan hal baru bagi masyarakat Hindu-Buddha awal. Wli, istilah Jawa Kuno, untuk beli ditemukan dalam prasasti dari 878 M. Begitu juga istilah Sansekerta, wyaya, ditemukan pada tahun yang sama dalam prasasti lain. “Ini mengindikasikan memang sudah ada transaksi jual beli pada masa itu. Namun, belum diketahui dengan pasti apakah memang semua transaksi menggunakan mata uang,” tulis arkeolog Supratikno Rahardjo dalam Peradaban Jawa. Prasasti dari akhir abad 9 M hingga awal 10 M mengindikasikan mata uang perak dan emas telah umum digunakan. Jumlahnya terbatas dilihat dari nilai mata uang emas dan perak yang berharga besar. Maksudnya, untuk pembelian barang berharga tinggi, misalnya seekor kerbau kira-kira 39,569 gram emas atau mas 1 su. Jika dengan perak seberat 212,301 gram atau dha 5 ma 8. Sementara kambing, harganya pirak 4 ma. Menurut berita Cina yang ditulis Chau Ju Kua, uang emas pada abad 13 M digunakan pula untuk menggaji pegawai. “Untuk barang yang berharga kecil tentunya ada jenis mata uang lain yang sampai sekarang belum pernah ditemukan,” tulis Riboet Darmosoetopo, epigraf dan pengajar arkeologi Universitas Gadjah Mada, dalam Sima dan Bangunan Keagamaan di Jawa Kuno IX-X TU. Sebagian transaksi kemungkinan besar tidak menggunakan mata uang tetapi barter atau dengan mata uang Cina pada masa yang lebih muda. Namun, penggunaan mata uang logam khususnya emas dan perak telah dikenal di Jawa sejak akhir abad 8 M. Satuan untuk mata uang emas...

Read More

Hiburan masyarakat di jawa pada jaman dulu

DI Jawa, seni pertunjukan jalanan sudah ada sejak abad 9. Kesenian itu dipertontonkan di kerumunan pasar dan di keramaian jalanan. Begitu pula dengan pertunjukan wayang yang semula digelar saat penetapan sima (tanah bebas pajak), kemudian hadir dalam pesta perkawinan rakyat. Arkeolog Puslit Arkenas Titi Surti Nastiti dalam Pasar di Jawa menjelaskan, dalam prasasti dikenal juga pertunjukkan keliling. Para pemainnya disebut menmen. Candi Borobudur, melalui reliefnya memperlihatkan suasana bagaimana tarian pinggir jalan dilakukan sebagaimana pengamen jalanan di masa kini. Mereka mendapatkan penghasilan dari para penonton. Berikut ini keterangan dari prasasti, naskah kesusastraan, dan relief di candi, mengenai hiburan masyarakat Jawa Kuno. Sinden Kata mangidung dijumpai dalam Prasasti Waharu I (873 M). Widu mangidung dapat diartikan sebagai penyanyi perempuan atau pesindhen. Kata widu, dalam Bahasa Indonesia sekarang artinya biduan. Profesi ini termasuk pejabat kerajaan yang disebut watak i jro atau golongan dalam (abdi dalem). Mereka termasuk profesi yang memperoleh gaji dari kraton. Wayang Bukti tertua yang menyebut kata dalang (haringgit) adalah Prasasti Kuti (840 M) yang ditemukan di Joho, Sidoarjo. Haringgit merupakan bentuk halus dari kata ringgit. Kata ini sampai sekarang masih ada dalam Bahasa Jawa, yang berarti wayang. Dalam Prasasti Kuti, haringgit dimasukkan ke dalam kelompok wargga i dalem artinya berada di lingkungan istana. Prasasti Wukajana dari masa Balitung menyebut pertunjukkan lakon Bhimma Kumara, sebuah cerita sempalan dari Mahabharata. Kisahnya tentang Kicaka yang dimabuk asmara terhadap Drupadi. Menurut prasasti itu,...

Read More

Rumah tinggal di jaman majapahit

RUMAH tinggal penduduk dialasi jerami dan dilengkapi ruang penyimpanan yang terbuat dari batu sekira 1 meter. Gunanya untuk menyimpan barang milik mereka. Di atas tempat penyimpanan ini mereka biasanya duduk. Begitulah kesaksian Ma Huan, penerjemah Laksamana Cheng Ho, ketika mengunjungi ibukota negara Jawa. Menurutnya dalam Yingya Shenglan, di sana sang raja tinggal di kota bernama Moa-cia-pa-i (Majapahit) pada 1416. Tak seperti masa sebelumnya, permukiman era Majapahit setidaknya sudah lebih bisa dibayangkan. Arkeolog Supratikno Rahardjo dalam Peradaban Jawa menulis pada masa itu sudah ada kecendrungan untuk memperhatikan aspek dekorasi pada rumah-rumah. Salah satunya dekorasi berupa tokoh perempuan yang terbuat dari tanah liat. Unsur dekorasi istimewa itu biasanya simbol status. Dalam prasasti disebutkan unsur dekorasi bangunan rumah sebagai hak istimewa untuk pejabat kerajaan. Prasasti Gandakuti (1042 M) menyebut salah satu hak istimewa pejabat adalah boleh memiliki pavilion dengan warna tertentu, misalnya kuning, atau dipan berukir yang diletakan di dalam bale. Prasasti Panumbangan (1120 M) dan Hantang (1135 M) menyebut pejabat juga boleh mendirikan bangunan dengan papan, mendirikan bangunan yang disebut dengan candi bukur di bukit, dan candi bagajing. Rumahnya boleh dibuat bertiang delapan, memiliki waruga, semacam serambi yang ditinggikan di tengah dan di bagian belakang. “Juga diperkenankan untuk menggunakan kain benanten untuk bagian-bagian tertentu, misalnya sebagai tirai dan rumbai-rumbai di bagian atas,” tulis Supratikno. Prasasti Ceker (1182 M) menyebut seorang pemuka (dewan) di Desa Ceker diperbolehkan memiliki rumah berpendopo. Bumbungan atapnya...

Read More

Transportasi masa lalu

PADA masa lalu, sungai seramai lalu lintas di darat. Masyarakat terkadang lebih memilih menyebrang sungai dibanding memutar lewat jalan darat. Distribusi barang dagangan juga sering dilakukan melalui sungai. Informasi sarana transportasi di air maupun darat untuk pengangkutan barang dagangan pada masa Hindu-Buddha bisa diperoleh dari prasasti, naskah, dan relief dinding candi. Seperti relief cerita Lalitavistara di dinding Borobudur. Dalam relief itu digambarkan kereta kuda beroda empat yang mengangkut kalangan bangsawan. Relief itu juga cukup banyak menggambarkan angkutan air. Di antaranya kapal dagang besar dengan layar dan bercadik ganda, perahu tanpa cadik dengan penutup di atasnya yang kemungkinan untuk menyebrangi sungai, dan perahu dengan dayung dan layar tanpa cadik. Angkutan Darat Paling tidak ada tiga jenis kendaraan angkutan darat. Para pedagang mengangkut barang dagangan di atas kuda (atitih) atau gerobak maupun pedati (gulungan, mapadati) yang ditarik kerbau atau sapi. Untuk mengangkut orang khususnya bangsawan digunakan tandu dan kereta kuda. Namun, tidak semua orang bisa mengendarai kereta kuda terutama di halaman keraton. Pada masa Majapahit, hak istimewa itu diberikan kepada pejabat tinggi kerajaan, seperti apatih amangku bhumi dan mpu dyaksa. Nagarakrtagama menggambarkan dengan cukup spesifik penggunaan kereta yang bermacam-macam. Misalnya, kereta dan pedati yang digunakan Mahapatih Gajah Mada ketika melakukan lawatan bersama rombongan Raja Hayam Wuruk. Kereta yang berjumlah 400 itu punya lambang tumbuhan pulutan pada sisinya. Sementara kereta milik Ratu Pajang bergambar matahari yang gemerlapan. Kereta Ratu Lasem berlukiskan banteng...

Read More

Insiden Bawean

Tanggal 3 Juli 2003 menjadi peristiwa yang paling menegangkan dalam sejarah TNI Angkatan Udara. Untuk pertama kalinya, Indonesia berhadapan dengan armada laut Amerika Serikat dan sempat menjadi sasaran tembak jet tempur F/A 18 Hornet milik United States Air Force (USAF). Peristiwa ini bermula dari tertangkapnya pergerakan lima pesawat AS di wilayah udara Indonesia oleh radar TNI AU. Kelima pesawat asing ini melakukan formasi tempur. Namun belum sempat diidentifikasi, keberadaannya sempat menghilang dari radar. Kondisi ini membuat Komando Sektor II Pertahanan Udara Nasional (Kosek II Hanudnas) dan Pusat Operasi Pertahanan Udara Nasional (Popunas) tak melaporkannya ke pusat. Namun, selang tiga jam keberadaan lima pesawat asing tersebut kembali terpantau di radar. Manuver itu membuat TNI AU bergerak cepat. Apalagi, pergerakan lima pesawat AS tersebut dianggap mengganggu penerbangan internasional, ini berdasarkan keluhan dari awak Bouraq Indonesia Airlines dan Mandala Airlines yang merasa terganggu. Ditambah lagi, penerbangan tersebut tidak dilaporkan melalui ATC terdekat. Karena dianggap membahayakan, Panglima Komando Sektor Pertahanan Udara Nasional II, Marsekal Muda Teddy Sumarno menerjunkan dua jet tempur F-16 Fighting Falcon guna mengidentifikasi keberadaannya. Kedua pesawat ini diawaki Kapten Pnb Ian Fuadi, Kapten Fajar Adrianto dengan sandi Falcon-1, Kapten Pnb Tony Heryanto, dan Kapten Pnb Satriyo Utomo bersandi Falcon-2. Kedua pesawat ini dibebankan satu misi, yakni mengidentifikasi visual dan menghindari konfrontasi dengan penerbang USAF. Mereka juga diminta untuk tidak mengunci (lock on) sasaran yang bisa menimbulkan provokasi. Guna menghindari serangan...

Read More

Agustus 2018
S S R K J S M
« Feb    
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031