Select Page

Hari: Februari 8, 2018

Nilai – nilai Pancasila dalam penyelengaraan pemerintahan negara

  Setiap negara mempunyai sistem pemerintahan yang berbeda-beda sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai dan nilai-nilai yang dianut oleh negara tersebut. Sistem pemerintahan juga menjadi ciri khas suatu negara. Karena, meskipun dua buah negara sama-sama menganu sistem pemerintahan presidensial, secara keseluruhan sistem pemerintahannya tidak akan sama persis. Dan Indonesia merupakan negara yang sistem pemerintahannya adalah presidensial. Yang dimaksud sistem penyelenggraan pemerintahan presidensial adalah sistem pemerintahan yang dipimpin oleh seorang presiden. Dan presiden ini bertanggungjawab akan penyelenggaraan pemerintahan untu mencapai tujuan yang diinginkan. Ciri-ciri sistem pemerintahan presidensial yang digunakan di Indonesia, yaitu: Penyelenggaraan negara dipimpin oleh Presiden sebagai kepala negara dan dibantu oleh wakil presiden dan para menteri (baca : Tugas, Fungsi, dan Wewenang Presiden dan Wakil Presiden) Menteri bertanggung jawab kepada Presiden dan tidak bertanggungjawab kepada DPR sebagai dewan legislatif. DPR hanya berhak bertanya, interpelasi, dan lain-lain tetapi tidak berhak meminta pertanggungjawaban menteri. Presiden Indonesia dipilih secara langsung oleh rakyat dalam pemilihan umum dan tidak bertanggungjawab kepada DPR. Meskipun demikian, MPR dapat memberhentikan Presiden dengan alasan-alasan yang kuat dan dapat dipertanggungjawabkan. Presiden tidak dapat membubarkan parlemen, dalam hal ini DPR. Karena DPR ini dipilih oleh rakyat dalam pemilihan umum, bukan dipilih Presiden. DPR memiliki kekuasaan legislatif atau membuat undang-undang, bersama Presiden. Anggota-anggotanya dipilih berdasarkan hasil pemilihan umum. Sistem pemerintahan Indonesia menganut sistem demokrasi yang berdasarkan Pancasila, sehingga disebut demokrasi Pancasila. Dengan demikian, penyelenggaraan pemerintahan negara Indonesia harus berdasarkan nilai-nilai...

Read More

Menjaga dan melestarikan nilai KeIndonesiaan

Keterbukaan informasi adalah sesuatu keniscayaan. Beragam informasi dengan mudah didapatkan masyarakat, baik melalui media cetak, elektronik, maupun media sosial merupakan sesuatu yang perlu menjadi perhatian bersama. Presiden Joko Widodo mengingatkan agar keterbukaan informasi saat ini jangan sampai melunturkan nilai-nilai ke-Indonesia-an. Kekhawatiran presiden timbul terutama saat melihat apa yang terjadi di media sosial beberapa waktu terakhir dipenuhi oleh insiden saling menghujat, saling menjelekkan, saling memaki, hingga adu domba. “Saat ini ada keterbukaan yang tidak bisa kita hambat dengan cara apapun. Dunia sudah terbuka,” ujar Presiden Joko Widodo saat memberikan sambutan pada Puncak Peringatan Hari Guru Nasional 2016 dan Hari Ulang Tahun ke-71 Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) di auditorium Sentul International Convention Centre (SICC), Sentul, Bogor, Minggu (27/11). Baginya, salah satu jalan untuk dapat mempertahankan nilai-nilai kebangsaan adalah dengan menguatkan karakter kebangsaan pada generasi penerus bangsa. “Inilah tugas Bapak dan Ibu guru untuk memberitahu pada anak didik kita, karena nilai-nilai ke-Indonesia-an kita bukan itu. Hati-hati, ini bisa jadi infiltrasi asing masuk ke negara kita dengan cara-cara melemahkan seperti itu, memecah belah seperti itu,” terang Presiden. Guru dianggap memiliki peran sentral dalam mengarahkan anak-anak, khususnya para siswa SMP, SMA/SMK. Presiden menitipkan pesan agar para guru dapat mengajarkan dan mendorong siswanya untuk memahami etika berinternet dan etiket sopan santun dalam menyampaikan sesuatu di media sosial. “Ini penting sekali. Saya titip agar anak-anak kita diajak bermedia sosial yang santun dengan tata nilai etika yang...

Read More

Memupuk nilai – nilai KeIndonesiaan

Faktor utama perubahan masyarakat adalah menyusupnya nilai-nilai global yang merasuk ke seluruh aspek kehidupan. Ini secara perlahan memarjinalkan nilai-nilai lokal yang sarat kebijakan. Maka, budaya bangsa yang semakin tergerus harus diantisipasi dengan penguatan nilai-nilai keindonesiaan. Buku ini hasil diskusi berseri. Tujuannya menanamkan dan mengembangkan nilai-nilai keindonesian dalam diri rakyat Indonesia. Ketika bangsa menjadikan Pancasila sebagai dasar negara dan falsafah hidup maka nilai keindonesiaan merupakan perisainya. Ini juga berperan sebagai penangkal sisi negatif dan penyerap sisi positif modernisasi serta globalisi. Nilai keindonesiaan begitu mendesak untuk diaktualisasikan karena Indonesia berada dalam pusaran perubahan sehingga terjadi internasionalisasi dan globalisasi. Internasionalisasi berarti suatu dunia, tanpa batas dan penerapan peradaban industrial barat (a borderless world and the acceptance of western industrial civilization). Globalisasi membenarkan, rakyat dari seluruh bangsa berpartisipasi secara proaktif dalam kemajuan teknologi-teknologi baru. Mereka bebas memanfaatkan kemampuan teknologis tersebut di mana pun dan kapan pun (hal xix). Penanaman nilai keindonesian pada hakikatnya pembentukan karakter individu. Generasi muda diharapkan mampu mengapresiasi kearifan budaya lokal dalam menghadapi tantangan masa depan yang semakin kompleks. Tak salah jika Umar bin Khattab berkata, “Didiklah anak-anakmu lebih baik dari pendidikan dirimu karena dia akan hidup di suatu zaman yang lebih sulit.” Bahkan, ketika Otto von Bismarck dapat mengalahkan Napoleon III timbul pendapat umum bahwa perang pada tahun 1870 dimenangkan oleh kepala sekolah Prusia dan guru Jerman. Semua menunjuk betapa pentingnya pendidikan karakter melalui sistem nilai tertentu oleh suatu...

Read More

Februari 2018
S S R K J S M
« Jan    
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728