Select Page

Bulan: Januari 2018

Membuka jalan ke Borobudur

Pada 3 Agustus 1812, Tan Jin Sing bertamu ke rumah Residen Inggris di Yogyakarta, John Crawfurd yang sedang bersama atasannya, Letnan Gubernur Jenderal Thomas Stamford Raffles. Tan Jin Sing memberi tahu Raffles dan Crawfurd bahwa dirinya sebagai bupati Yogyakarta yang diangkat oleh Sultan Hamengkubuwono III, akan menggunakan nama Secodiningrat. Sultan memberinya gelar Tumenggung, sehingga nama lengkapnya Kanjeng Raden Tumenggung Secodiningrat. Raffles menyatakan gelar itu pantas karena Tan Jin Sing berjasa kepada Sultan Hamengkubuwono III. Dia menyerahkan surat kuasa penarikan pajak di daerah Kedua kepada Tan Jin Sing. Selain itu, Raffles juga mengungkapkan ketertarikannya pada candi-candi peninggalan nenek moyang orang Jawa dan ingin menelitinya. Dia telah melihat Candi Prambanan dan akan memerintahkan Letkol Colin Mackenzie untuk meneliti dan memugarnya dengan bantuan dari Crawfurd. Mackenzie berpengalaman dalam hal pengumpulan data geografis, sejarah dan artefak purbakala kala di India. Namun, Mackenzie keburu kembali ke India pada Juli 1813. Tan Jin Sing menanggapi minat Raffles akan candi. “Tan Jin Sing mengatakan bahwa salah seorang mandornya pernah mengatakan bahwa di Desa Bumisegoro deket Muntilan, dia melihat sebuah candi besar. Memang kejadian ini telah puluhan tahun silam ketika mandor itu masih kecil,” tulis TS Werdoyo, salah seorang keturunan Tan Jin Sing, dalam biografi Tan Jin Sing: Dari Kapiten Cina sampai Bupati Yogyakarta. Raffles langsung tertarik dan meminta Tan Jin Sing pergi ke Bumisegoro untuk melihat keberadaan candi tersebut. Hari minggu, Tan Jin Sing dan mandornya,...

Read More

Pertanian pada masa lalu

TIKUS-tikus menyerang ladang. Seorang laki-laki nampak sedang membakar sesuatu. Asapnya diarahkan pada ladang yang sedang diserang tikus itu. Dia hendak menghalau tikus-tikus itu agar tak mengganggu ladangnya. Penggambaran itu terpahat pada relief Karmawibhangga di Candi Borobudur. Pada panil relief lainnya, babi muncul sebagai pengganggu. Ia pun ditombak oleh warga. Di panil lain digambarkan dua orang yang bertugas menjaga sawah. Mereka menunggu di dalam gubuk di tengah sawah. Ada pula seekor anjing yang berbaring di bawah gubuk itu. “Hama tikus diberantas pakai emposan, itu pakai daun kelapa yang kering dibakar tidak ada apinya, yang dipentingkan asapnya. Itu juga ada anjingnya disuruh jegok-jegok, nanti terus digropyok orang (tikusnya, red),” kata Djaliati Sri Nugrahani, dosen arkeologi Universitas Gadjah Mada kepada Historia. Djaliati menjelaskan dalam banyak data prasasti disebutkan beberapa teknologi pertanian. Sejak lama masyarakat Jawa Kuno mengembangkan pertanian gaga atau menanam padi di tanah kering dan pertanian tadah hujan di lahan basah yang memanfaatkan hujan. Ada pula yang menggunakan irigasi. “Pakai sistem irigasi, ada petugas yang mengurus irigasinya. Mereka ini petugas hulu air. Hingga kini di Gunung Kidul juga masih ada padi gaga,” jelas Djaliati. Data arkeologis lainnya ditemukan pada penggalian di situs Liangan, Dusun Liangan, Purbosari, Ngadirejo, Temanggung. Di situs ini ditemukan bekas lahan pertanian kuno. Bahkan tim peneliti dari Balai Arkeologi Yogyakarta menemukan teknik pertanian yang tak jauh berbeda dengan saat ini. Lahan pertanian itu dibentuk seperti sistem bedengan di...

Read More

Mata uang kuno

JUAL beli bukan hal baru bagi masyarakat Hindu-Buddha awal. Wli, istilah Jawa Kuno, untuk beli ditemukan dalam prasasti dari 878 M. Begitu juga istilah Sansekerta, wyaya, ditemukan pada tahun yang sama dalam prasasti lain. “Ini mengindikasikan memang sudah ada transaksi jual beli pada masa itu. Namun, belum diketahui dengan pasti apakah memang semua transaksi menggunakan mata uang,” tulis arkeolog Supratikno Rahardjo dalam Peradaban Jawa. Prasasti dari akhir abad 9 M hingga awal 10 M mengindikasikan mata uang perak dan emas telah umum digunakan. Jumlahnya terbatas dilihat dari nilai mata uang emas dan perak yang berharga besar. Maksudnya, untuk pembelian barang berharga tinggi, misalnya seekor kerbau kira-kira 39,569 gram emas atau mas 1 su. Jika dengan perak seberat 212,301 gram atau dha 5 ma 8. Sementara kambing, harganya pirak 4 ma. Menurut berita Cina yang ditulis Chau Ju Kua, uang emas pada abad 13 M digunakan pula untuk menggaji pegawai. “Untuk barang yang berharga kecil tentunya ada jenis mata uang lain yang sampai sekarang belum pernah ditemukan,” tulis Riboet Darmosoetopo, epigraf dan pengajar arkeologi Universitas Gadjah Mada, dalam Sima dan Bangunan Keagamaan di Jawa Kuno IX-X TU. Sebagian transaksi kemungkinan besar tidak menggunakan mata uang tetapi barter atau dengan mata uang Cina pada masa yang lebih muda. Namun, penggunaan mata uang logam khususnya emas dan perak telah dikenal di Jawa sejak akhir abad 8 M. Satuan untuk mata uang emas...

Read More

Hiburan masyarakat di jawa pada jaman dulu

DI Jawa, seni pertunjukan jalanan sudah ada sejak abad 9. Kesenian itu dipertontonkan di kerumunan pasar dan di keramaian jalanan. Begitu pula dengan pertunjukan wayang yang semula digelar saat penetapan sima (tanah bebas pajak), kemudian hadir dalam pesta perkawinan rakyat. Arkeolog Puslit Arkenas Titi Surti Nastiti dalam Pasar di Jawa menjelaskan, dalam prasasti dikenal juga pertunjukkan keliling. Para pemainnya disebut menmen. Candi Borobudur, melalui reliefnya memperlihatkan suasana bagaimana tarian pinggir jalan dilakukan sebagaimana pengamen jalanan di masa kini. Mereka mendapatkan penghasilan dari para penonton. Berikut ini keterangan dari prasasti, naskah kesusastraan, dan relief di candi, mengenai hiburan masyarakat Jawa Kuno. Sinden Kata mangidung dijumpai dalam Prasasti Waharu I (873 M). Widu mangidung dapat diartikan sebagai penyanyi perempuan atau pesindhen. Kata widu, dalam Bahasa Indonesia sekarang artinya biduan. Profesi ini termasuk pejabat kerajaan yang disebut watak i jro atau golongan dalam (abdi dalem). Mereka termasuk profesi yang memperoleh gaji dari kraton. Wayang Bukti tertua yang menyebut kata dalang (haringgit) adalah Prasasti Kuti (840 M) yang ditemukan di Joho, Sidoarjo. Haringgit merupakan bentuk halus dari kata ringgit. Kata ini sampai sekarang masih ada dalam Bahasa Jawa, yang berarti wayang. Dalam Prasasti Kuti, haringgit dimasukkan ke dalam kelompok wargga i dalem artinya berada di lingkungan istana. Prasasti Wukajana dari masa Balitung menyebut pertunjukkan lakon Bhimma Kumara, sebuah cerita sempalan dari Mahabharata. Kisahnya tentang Kicaka yang dimabuk asmara terhadap Drupadi. Menurut prasasti itu,...

Read More

Rumah tinggal di jaman majapahit

RUMAH tinggal penduduk dialasi jerami dan dilengkapi ruang penyimpanan yang terbuat dari batu sekira 1 meter. Gunanya untuk menyimpan barang milik mereka. Di atas tempat penyimpanan ini mereka biasanya duduk. Begitulah kesaksian Ma Huan, penerjemah Laksamana Cheng Ho, ketika mengunjungi ibukota negara Jawa. Menurutnya dalam Yingya Shenglan, di sana sang raja tinggal di kota bernama Moa-cia-pa-i (Majapahit) pada 1416. Tak seperti masa sebelumnya, permukiman era Majapahit setidaknya sudah lebih bisa dibayangkan. Arkeolog Supratikno Rahardjo dalam Peradaban Jawa menulis pada masa itu sudah ada kecendrungan untuk memperhatikan aspek dekorasi pada rumah-rumah. Salah satunya dekorasi berupa tokoh perempuan yang terbuat dari tanah liat. Unsur dekorasi istimewa itu biasanya simbol status. Dalam prasasti disebutkan unsur dekorasi bangunan rumah sebagai hak istimewa untuk pejabat kerajaan. Prasasti Gandakuti (1042 M) menyebut salah satu hak istimewa pejabat adalah boleh memiliki pavilion dengan warna tertentu, misalnya kuning, atau dipan berukir yang diletakan di dalam bale. Prasasti Panumbangan (1120 M) dan Hantang (1135 M) menyebut pejabat juga boleh mendirikan bangunan dengan papan, mendirikan bangunan yang disebut dengan candi bukur di bukit, dan candi bagajing. Rumahnya boleh dibuat bertiang delapan, memiliki waruga, semacam serambi yang ditinggikan di tengah dan di bagian belakang. “Juga diperkenankan untuk menggunakan kain benanten untuk bagian-bagian tertentu, misalnya sebagai tirai dan rumbai-rumbai di bagian atas,” tulis Supratikno. Prasasti Ceker (1182 M) menyebut seorang pemuka (dewan) di Desa Ceker diperbolehkan memiliki rumah berpendopo. Bumbungan atapnya...

Read More

Januari 2018
S S R K J S M
« Nov   Feb »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031